ASPEK keselamatan menjadi yang utama dalam permainan gledekan. Peserta hanya diperbolehkan meluncur apabila sudah memakai memakai helm, pelindung lutut dan siku, hingga sepatu yang telah dipasang karet untuk mengerem.
’’Harus benar-benar safety, kalau ada yang tidak pakai helm gitu saja langsung ditegur panitia, tidak boleh ikut,’’ ujar Eva Dia Sri Lestari, peserta gledekan di Tretes dan Pacet. Menurutnya, panitia penyelenggara gledekan menentukan jalan yang menjadi sirkuit berdasarkan sejumlah pertimbangan keamanan. Dari medannya yang tidak terlalu curam, hingga tingkat volume kendaraan. ’’Jadi tidak asal-asalan,’’ imbuhnya.
Tak hanya itu, akomodasi pun disiapkan panitia. Di Padusan dan Claket, setiap selesai meluncur, peserta bakal kembali naik ke garis start dengan menaiki pikap yang disediakan panitia. ’’Karena treknya jauh ya, tidak seperti di Tretes yang pendek jadi cukup jalan kaki,’’ ucapnya.
Dari yang semula hanya meluncur secara bersama-sama, kini juga muncul ajang balapan gledekan. Lomba cepat-cepatan ini menawarkan berbagai hadiah menarik. ’’Kapan hari saya juara 1 lomba dapat hadiah kayak peralatan rumah tangga begitu,’’ tutur Eva.
Sebagai permainan kekinian yang lagi ramai digemari, ajang gledekan juga menjadi tempat pertemuan ratusan pemuda dari berbagai komunitas. Lebih dari sekadar sarana menyalurkan hobi, lewat permainan ini mereka menjalin pertemanan lintas daerah. ’’Sekali main itu ada 400-800 orang,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah