Permainan gledekan sedang ngetren di kalangan anak muda Mojokerto. Mengandalkan papan seluncur dengan roda kecil, permainan ini menawarkan sensasi meluncur kencang di jalanan menurun. Tak hanya menguji adrenalin, gledekan kini telah menjadi wadah hiburan dan kreativitas.
MUNCUL di Tretes, Pasuruan, sejak tahun lalu, demam gledekan merambah ke Pacet, Kabupaten Mojokerto. Saat ini, setidaknya ada dua tempat yang dipakai menggelar gledekan setiap Minggu dan tanggal merah, yakni di Desa Padusan dan Desa Claket. ’’Awal mulanya di Tretes, dulu pakai kayu, besi, dan laher, kalau sekarang lagi ramai-ramainya pakai ban skateboard,’’ kata Eva Dia Sri Lestari, 21, anggota komunitas gledekan asal Desa Kesiman, Trawas, kemarin (23/5).
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pramusaji di kafe di Trawas itu bermain gledekan sejak Ramadan lalu. Dari yang semula hanya jadi penonton, Eva mulai tertarik hingga akhirnya rutin mengikuti gledekan.
Dengan membayar biaya registrasi Rp 10 ribu, peserta mendapat gelang khusus sebelum mengikuti permainan. ’’Untuk alatnya bisa bawa sendiri atau bisa sewa di tempat,’’ tuturnya.
Gledekan yang digelar di Padusan diikuti ratusan orang dari anak-anak hingga dewasa. Tak hanya warga lokal, para peserta datang dari Pasuruan, Sidoarjo, hingga Batu. Panjang sirkuit Padusan mencapai lebih dari 1 kilometer, separuh lebih panjang dari sirkuit di Palembon, Tretes.
Sejak pertama kali mencoba, Eva mengaku langsung ketagihan bermain gledekan. Bahkan, dirinya rela merogoh kocek sebesar Rp 850 ribu sampai Rp 1 juta demi memiliki gledekan sendiri. ’’Awalnya nyoba punya teman, terus akhirnya buat dan bisa menang laga sekarang. Seru banget, adrenalinnya wah, apalagi sekarang pesertanya tambah membeludak,’’ jelas dia.
Tak hanya menikmati sensasi berseluncur di jalur turunan, bermain gledekan juga menjadi sarana Eva mengenal banyak teman. Terlebih kini telah terbentuk berbagai komunitas gledekan berisi anak-anak kreatif. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah