BAGI sebagian kalangan, ikat pinggang bukan sekadar alat penahan celana supaya tidak melorot. Item yang melingkar di pinggang itu juga menjadi bagian dari fesyen yang menunjukkan karakter penggunanya. Lebih dari aksesori fungsional, gesper pun kini naik kelas sebagai penanda tren mode.
Memiliki satu sabuk tak cukup bagi Anita untuk berkegiatan sehari-hari. Perempuan 22 tahun asal Kota Mojokerto itu setidaknya punya lima jenis ikat pinggang di lemari. Semuanya dipakai, bergantian sesuai kebutuhan dan kondisi. ’’Sesuai mood juga, ada yang model polos, ada juga yang warna mencolok,’’ tuturnya, kemarin (18/4).
Menurutnya, model gesper sangat menunjang penampilan. Dia akan menggunakan ikat pinggang yang dirasa selaras dengan pakaian, tas, dan sepatu. ’’Yang penting tidak kontras atau tabrakan, kalau bajunya polos gak cocok pakai sabuk warna-warni,’’ imbuh dia.
Koleksi sabuk milik Anita terdiri dari bahan kulit, sintetis, kain. Warnanya sebagian besar kalem seperti hitam, abu-abu, coklat, dan hijau. Bagian kepala gesper ada yang polosan dan berkilau dengan aksesori tambahan kantong serta rantai. ’’Fungsinya lebih ke aksesori dan tren saja sih, karena tetap pakai gesper meskipun sebenarnya celananya sudah pas gak akan melorot,’’ tutur sales HP tersebut.
Lain halnya dengan Helmy. Guru pelajaran animasi di Kabupaten Mojokerto itu memilih gesper berdasarkan fungsi dan kualitas. Dari dua ikat pinggang yang ia miliki, semuanya berwarna hitam dengan bahan kulit dan kain. ’’Semuanya polosan, cocok-cocok saja dipakai kerja atau jalan-jalan,’’ ujar pria 25 tahun itu.
Menurut Helmy, ikat pinggang bisa menunjukkan karakter seseorang. Bagi orang sepertinya yang cenderung introvert, warna netral tanpa banyak aksesori tambahan tentu jadi pilihan. ’’Kalau yang ekstrovert atau yang suka tampil nyentrik begitu pasti lebih warna-warni,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah