’’Jadi untuk biaya iklan di pasar digital kayak marketplace gitu minimal sebulan Rp 60 juta, mereka kami dorong untuk beriklan yang produktif,’’
Muhamad Amin
Pendamping UMKM Disperindag Kabupaten Mojokerto
PRODUK lokal menguasai 70 persen pasar di Mojokerto. Jor-joran promosi secara online jadi salah satu kuncinya.
Pendamping UMKM Disperindag Kabupaten Mojokerto Muhamad Amin mengungkapkan, produk lokal kini semakin berkembang dan digemari masyarakat. Tak hanya bersaing, menurutnya, merek lokal kini sudah mampu menggeser dominasi brand kemanaan. ’’Brand lokal sudah mendominasi hampir 70 persen dari brand umum,’’ ungkapnya, kemarin.
Klaim itu didasarkan pada penggunaan merek-merek hasil produsen lokal, khususnya sepatu yang kian marak. Amin menyatakan, indikator masifnya ekspansi produk lokal juga ditunjukkan dengan banyaknya UMKM yang ikut dalam program kepengurusan merek dan legalitas izin berusaha dari Pemkab Mojokerto. ’’Mereka sudah capek pakai brand umum yang berakibat masalah hukum, akhirnya program merek gratis di Disperindag serapannya sangat bagus,’’ ujarnya.
Di sisi lain, kesadaran pelaku usaha UMKM untuk melegalkan seluruh urusan produknya juga mulai tumbuh. Dari sadar legalitas, sadar brand, sadar hukum, hingga sadar perpajakan. Bagi Amin, kelengkapan legalitas menjadi kunci penting untuk memajukan produk. Tren itu yang terlihat pada komoditas alas kaki yang kini telah menjadi identitas Mojokerto.
’’Untuk meningkatkan produk unggulan jadi ikon, kami membuat program-program kepengurusan secara gratis, termasuk merek, NIB, hak cipta, dan melakukan pendampingan mulai dari nol sejak permodalan, pemasaran, hingga pemanfaatan,’’ bebernya.
Menurut pria asal Desa Parengan, Kecamatan Jetis, itu salah satu kunci keberhasilan produk lokal bisa masuk ke kancah nasional adalah masifnya promosi online. Amin mengatakan, brand lokal yang kini sudah dikenal secara luas setidaknya menghabiskan Rp 60 juta per bulan untuk mempromosikan produknya secara digital. ’’Jadi untuk biaya iklan di pasar digital kayak marketplace gitu minimal sebulan Rp 60 juta, mereka kami dorong untuk beriklan yang produktif,’’ tuturnya.
Inovasi dalam memasarkan produk secara digital membuat merek-merek asal Mojokerto semakin dikenal karena namanya bertebaran di internet. Kesadaran masyarakat akan keberadaan brand pada akhirnya membuat minat dan kepercayaan terhadap produk meningkat. ’’Kalau yang produk jajanan seperti pentol itu pemasarannya lewat komunitas-komunitas, dan itu sangat efektif,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto