Prinsip reduce, reuse, dan recycle atau 3R kian populer di kalangan masyarakat Mojokerto sebagai upaya mengatasi persoalan sampah sejak tingkat paling bawah. Gaya hidup itu berfokus pada pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang barang melalui kegiatan sehari-hari di rumah. Lewat prinsip 3R, pepatah Habis Manis Sepah Dibuang pun menjadi Habis Manis Sepah Bermanfaat.
BAGI Akhmad Sub’han Yuda Putra, menerapkan prinsip 3R adalah lifestyle. Sudah hampir sedekade terakhir, warga Lingkungan Kedungturi, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, itu mempraktikkan konsep 3R. Dari yang paling sederhana, yakni memilah antara sampah organik dan sampah anorganik. ’’Sampah organik kalau dulu saya jadikan campuran soil (media tanam) untuk tanaman, nah yang anorganik ini kita perlakukan dengan 3R,’’ katanya, kemarin (7/2).
Menurut pria 29 tahun tersebut, ’’kewajiban’’ mengolah sampah organik seperti sisa makanan dan kertas sebagaimana sering termuat dalam kampanye lingkungan tak perlu menjadi beban. Khususnya bagi masyarakat yang memiliki kesibukan padat serta keterbatasan dari segi sumber daya pemanfaatan. Sampah-sampah itu jika pun dibuang tak menjadi masalah karena aman bagi lingkungan. ’’Sampah organik tidak mencemari lingkungan, jadi meskipun langsung dibuang tidak masalah,’’ imbuhnya.
Yang lebih penting, lanjut Sub’han, adalah pemisahan kedua jenis sampah tersebut. Sebab, karakter sampah anorganik tak bisa terurai secara alami sehingga dibutuhkan perlakuan 3R. Dalam menerapkan prinsip reduce atau pengurangan, dirinya sebisa mungkin meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai untuk keperluan rumah tangga. ’’Jadi selalu diupayakan bawa kantong belanja sendiri misal pas ke supermarket atau pasar,’’ tuturnya.
Meskipun dari diri sendiri sudah membatasi penggunaan kantong plastik, masih banyak penjual yang memakainya. Karena itu, diperlukan upaya kedua, yaitu reuse alias penggunaan kembali. ’’Kalau dapat kantong plastik atau wadah yang bisa digunakan kembali bisa kita simpan untuk dipakai keperluan yang lain-lain untuk berkali-kali,’’ jelas dia.
Menurut Sub’han, konsep recycle-lah yang menjadi tantangan dalam penerapan prinsip 3R di tingkat rumah tangga. Upaya yang menekankan pada proses daur ulang sampah itu membutuhkan peralatan dan alat khusus. Karena itu, bentuk recycle yang paling memungkinkan untuk dilakukan adalah mengubah fungsi benda seperti wadah rusak menjadi pot bunga atau gelas kopi menjadi aksesori dan lainnya. ’’Kalau yang benar-benar sudah tidak bisa digunakan ulang ya akhirnya dibuang ke TPS3R, di sanalah nanti proses recycle sebenarnya,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah