MASAK-masak di tepi Sungai Brantas menjadi cara Najib Al Falaq menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga dan teman. Sudah setahun terakhir, karyawan swasta itu menerapkan gaya hidup lambat alias slow living tersebut setiap kesempatan libur kerja. Momen tersebut dikemas sesantai mungkin untuk sama-sama melepas kejenuhan dari rutinitas.
Di bantaran Sungai Brantas, kompleks Taman Brantas Indah (TBI), Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, itu tikar terhampar. Berbagai bumbu bahan masak halus telah dicampur dengan ikan laut dan air tawar. Kompor portabel dinyalakan, masak-masak di bawah pohon rindang pun dimulai. Ada sambal, nasi, kerupuk, lele dan gumare goreng, serta anek menu rumahan lainnya tak lama kemudian tersaji.
Kegiatan itu menjadi kesibukan Najib bersama istri dan putrinya yang duduk di bangku kelas VI SD sepanjang pagi hingga siang kemarin (10/1). Selain keluarga asal Desa Bandung, Gedeg, itu di sana juga berkumpul dua keluarga lain. Mereka bahkan dari Sidoarjo dan Surabaya. Kelompok pertemanan ini sengaja menggelar piknik kecil-kecilan di Sungai Brantas untuk mengisi libur akhir pekan. ’’Sudah setahun ini setiap seminggu sekali wisata keluarga di sini,’’ tutur Najib.
Pria 41 tahun itu mengatakan, ide slow living ala keluarg kecilnya itu muncul saat dirinya menemani sang putri berlatih di Sungai Brantas. Navia Ajwha, putri pasangan Najib dan Silvia, merupakan seorang atlet cabang olahraga ski air. Dari yang sebelumnya hanya nongkrong seorang diri sambil menunggui buah hati, dia mulai berpikir untuk sekalian berwisata bersama istri dan anak di tempat tersebut.
’’Alangkah asiknya kalau tempat ini dipakai nyantai-nyantai bersama keluarga untuk sama-sama melepas penat,’’ ucapnya. Dari yang awalnya hanya bertiga, Najib mulai mengajak teman-temannya. Mereka akhirnya rutin ikut ber-slow living sambil menikmati sepoinya angin Sungai Brantas.
Vakansi sederhana ini membuat hubungan keluarganya semakin harmonis. Najib bisa semakin mendekatkan diri dengan istri dan anak. Tak perlu mahal dan capek pergi ke tempat wisata yang jauh dari rumah, dirinya bisa merasakan sensasi refreshing sekaligus me time. ’’Biaya bisa dikatakan murah, tapi mengena karena jadi momen santai dan lebih dekat dengan keluarga. Apalagi kita orang tua dari pagi sampai sore kerja, anak juga sekolah, jadi waktu ketemu juga tidak bisa panjang,’’ ungkapnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah