PAPARAN gadget yang berlebihan pada anak dapat memicu banyak dampak negatif bagi kesehatan. Dalam penerapan detoks digital, perlu adanya batasan screen time yang tegas pada sang buah hati.
’’Penggunaan gadget bisa mengganggu pertumbuhan sinapsis (sambungan neuron) pada otak anak. Kalau pertumbuhan sinapsis pada otak itu rimbun karena banyak stimulasi, anak makin cerdas,’’ kata Psikolog Klinis RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto Hasri Ardilla, S.Psi, M.Psi, psikolog.
Oleh karena itu, pihaknya mewanti-wanti agar para orang tua tidak mengenalkan balita dengan gadget. Utamanya pada masa golden age atau 0-2 tahun. Sebab, pada usia tersebut, agar pertumbuhan otak anak maksimal, wajib distimulasi oleh para orang tua.
Menurutnya, World Health Organization (WHO) telah mengatur penggunaan gadget atau screen time bagi anak hingga dewasa. Yakni, usia 0-2 tahun tidak disarankan mengakses gadget. Anak 2-5 tahun maksimal 1 jam per hari. sementara anak 6-12 tahun 1-2 jam per hari. dan anak 13 tahun ke atas dibatasi 2-3 jam per hari di luar kegiatan belajar.
’’Untuk usia 0-2 tahun hanya boleh untuk video call. Karena pemakaian gadget untuk komunikasi dua arah. Sedangkan bagi remaja dan dewasa, dari WHO belum ada aturan jelasnya. Tapi disarankan membatasi untuk menghindari perilaku tidak wajar,’’ beber Hasri.
Pasalnya, lanjut dia, pemakaian gawai berlebih bisa mengganggu konsentrasi belajar anak. Bagi orang dewasa yang ’’kecanduan’’ gadget, keterampilan komunikasi mereka dengan orang lain bakal menurun. Kemampuan untuk menyimak atau memahami perkataan orang lain bakal menurun. ’’Bahkan bisa membuat anak seolah mengalami autisme non esensial,’’ jelas dia.
Oleh karena itu, menurutnya detoks digital perlu diterapkan pada keluarga di tengah era serba digital saat ini. Tak lain karena memiliki banyak manfaat bagi mental seseorang. Mulai dari mengurangi kecemasan hingga menekan fear of missing out (FOMO) atas derasnya arus informasi media sosial. Juga, dinilai mampu meningkatkan keperacayaan diri, konsentrasi serta mengurangi tingkat depresi karena karena berlebihan mengakses gadget. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah