Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengapa Kulit Bisa Terbakar Matahari? Ini Penjelasan Lengkapnya

Imron Arlado • Kamis, 4 Desember 2025 | 23:05 WIB
Di negara tropis seperti Indonesia, kegiatan di luar ruangan hampir tidak bisa dihindari. Sumber Foto: Pinterest
Di negara tropis seperti Indonesia, kegiatan di luar ruangan hampir tidak bisa dihindari. Sumber Foto: Pinterest

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di negara tropis seperti Indonesia, kegiatan di luar ruangan hampir tidak bisa dihindari.

Namun, seringkali kita baru menyadari dampaknya setelah pulang ke rumah seperti kulit terasa panas, memerah, perih, bahkan mulai mengelupas.

Kondisi ini disebut sunburn, atau kulit terbakar matahari. Meski terlihat seperti masalah kulit yang ringan.

Sunburn sebenarnya merupakan tanda bahwa kulit mengalami kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan.

Banyak orang menganggapnya wajar setelah liburan atau berjemur, padahal efeknya bisa mempengaruhi kesehatan kulit dalam jangka panjang.

Untuk itu, penting memahami apa sebenarnya yang terjadi pada kulit saat terbakar matahari, apa penyebabnya, dan bagaimana cara mencegahnya agar kulit tetap sehat dan terlindungi.

Kulit bisa terbakar matahari atau mengalami sunburn karena terlalu lama terpapar sinar ultraviolet (UV) dari matahari, terutama sinar UVB.

Ketika kulit terkena sinar UV lebih banyak dari yang mampu ditoleransi tubuh, sel-sel kulit mulai mengalami kerusakan.

 

 

Tubuh kemudian bereaksi dengan meningkatkan aliran darah ke area yang rusak, sehingga kulit terlihat memerah dan terasa panas.

Pada saat yang sama, sistem imun juga ikut bekerja, menyebabkan sensasi perih, nyeri, hingga bengkak ringan.

Beberapa hari setelahnya, kulit biasanya mulai mengelupas sebagai cara alami tubuh membuang sel-sel yang rusak.

Tiap orang mempunyai tingkat kerentanan berbeda terhadap sunburn. Mereka yang berkulit lebih cerah cenderung lebih cepat terbakar karena kandungan melanin yang lebih sedikit.

Faktor lain seperti tidak memakai sunscreen, terlalu lama berada di luar pada jam sinar UV tinggi (sekitar pukul 10 pagi hingga 3 sore).

Berada di area yang memantulkan cahaya seperti pantai atau air, hingga penggunaan skincare tertentu juga bisa meningkatkan risiko.

Meski sering disamakan dengan tanning, sunburn berbeda karena tanning adalah upaya tubuh membuat melanin untuk melindungi kulit, sedangkan sunburn adalah tanda kerusakan nyata pada sel kulit.

Walaupun terlihat seperti masalah sepele, sunburn memiliki dampak jangka panjang jika terjadi berulang kali.

Kerusakan sel kulit akibat paparan UV berlebih bisa menyebabkan penuaan dini, kulit kusam, flek hitam, keriput, bahkan meningkatkan risiko kanker kulit.

 

 

Karena itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Menggunakan sunscreen dengan SPF yang cukup, mengoles ulang setiap dua jam.

Memakai topi atau pakaian pelindung, serta menghindari terlalu lama berada di bawah matahari pada jam-jam tertentu bisa membantu melindungi kulit.

Pada akhirnya, memahami bagaimana sunburn terjadi membuat kita lebih sadar bahwa merawat kulit bukan hanya soal estetika, tetapi juga kesehatan jangka panjang.

NIYA

Editor : Imron Arlado
#tanning kulit #tren kecantikan #kerusakan kulit #kanker kulit #berjemur badan #kulit terbakar sinar matahari #sunburn