JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di tegah derasnya globalisasi dan arus media sosial, minat membaca di kalangan anak muda seringkali dipertanyakan. Namun, di balik tren video pendek dan konten instan, Sastra Inggris masih memiliki ruangnya tersendiri.
Bagi Gen-Z yang tumbuh di era digital, karya sastra seringkali membosankan. Tetapi, sastra bukan hanya sekedar teks yang dipenuhi kata sulit, tetapi merupakan cermin kehidupan yang relevan dan kaya akan makna.
Melalui karya-karya klasik seperti puisi hingga novel Pride and Prejudice karya Jane Austen hingga karya modern seperti Normal People karya Sally Rooney, Gen-Z bisa menemukan refleksi dari diri mereka sendiri, tentang cinta, identitas diri, hingga perjuangan menemukan makna hidup. Sastra membuktikan bisa menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia yang serba digital ini, serta memahami emosi manusia yang paling dalam.
Lebih dari sekedar belajar Bahasa, Sastra Inggris lebih mengajarkan empati, membuka wawasan budaya, serta membantu pembacanya memahami dunia dari kacamata yang berbeda. Di era yang serba cepat ini, karya sastra justru mengingatkan kita untuk melambat dan benar benar merasakan kata demi kata yang ditulis.
Meski banyak yang menganggap sastra “jadul” atau kurang praktis di dunia kerja yang modern, kenyataannya sastra tetap relevan bagi generasi muda saat ini.
Dalam dunia serba teknologi dan AI ini, kemampuan untuk memahami manusia, terutama emosi, pikiran, dan budayanya menjadi hal yang semakin berharga. Di sinilah sastra mengambil peran penting.
Pertama, sastra bisa melatih empati dan pemikiran kritis. Seperti saat membaca karya To Kill a Mockingbird atau The Great Gatsby, pembaca diajak melihat kehidupan dari perspektif orang lain. Belajar untuk memahami konflik sosial, moralitas, dan perjuangan yang tidak lekang oleh waktu. Hal ini membuat Gen-Z lebih terbuka terhadap isu-isu sosial dan lebih sadar akan kompleksitas dunia di sekitar mereka.
Kedua, sastra dapat menghubungkan masa lalu dan masa sekarang. Karya klasik mungkin sudah ada dari berabad-abad tahun lalu, tetapi tema-tema dari karya tersebut masih sangat relevan di kehidupan sekarang.
Seperti cinta, ambisi, kesepian, dan perjuangan menjadi diri sendiri. Tema dan isu-isu tersebut bisa ditemukam versi modern dalam novel seperti Eleanor Oliphant is Completely Fine atau The Perks of Being a Wallflower yang sama-sama membahas pencarian identitas.
Ketiga, sastra dapat membantu meningkatkan kreativitas dan kemampuan komunikasi. Di era konten digital, ide dan cara menyampaikan adalah kunci.
Dengan memahami gaya Bahasa, metafora, dan simbolisme dari karya sastra, anak muda bisa menulis dengan lebih ekspresif, baik di caption media sosial maupun karya kreatif lainnya.
Baca Juga: Menyulut Semangat Belajar Siswa lewat Pelajaran dan Karya Sejarah
Sastra Inggris bukan hanya sekedar tentang belajar bahasa dan membaca teks lama, tetapi tentang bagaimana memahami manusia dari sudut pandang yang berbeda, selama manusia masih memiliki emosi, mimpi, dan cerita, belajar dan memahami sastra akan selalu relevan sampai kapanpun, bahkan bagi generasi yang tumbuh di dunia serba digital ini.
Natasia Reyna
Editor : Imron Arlado