Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengenal Perbedaan antara Deja Vu dan Nostalgia, Dua Pengalaman Psikologis yang Sering Disamakan

Imron Arlado • Minggu, 9 November 2025 | 20:20 WIB
Pernahkah kita merasa seolah sedang mengalami sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Sumber Foto: Google
Pernahkah kita merasa seolah sedang mengalami sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Sumber Foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pernahkah kita merasa seolah sedang mengalami sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya, padahal kamu tahu hal itu baru terjadi sekali.

Atau merasa rindu dan hangat saat mengingat masa lalu yang pernah kamu alami.  Dua pengalaman psikologis ini dikenal dengan istilah deja vu dan nostalgia.

Sekilas keduanya tampak mirip karena sama-sama berkaitan dengan ingatan dan perasaan, namun sebenarnya memiliki makna dan mekanisme yang sangat berbeda.

Istilah deja vu berasal dari bahasa Prancis yang berarti sudah pernah melihat. Fenomena ini terjadi ketika seseorang merasa sedang mengalami peristiwa yang sama dengan yang pernah dialaminya, padahal sebenarnya hal itu belum pernah terjadi.

Contohnya, kamu sedang berbicara dengan teman di tempat baru, lalu tiba-tiba muncul perasaan aneh bahwa percakapan ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Kita tahu secara logis hal itu tidak mungkin, tetapi sensasi pernah itu terasa sangat nyata.

 

Baca Juga: Jalan Soekarno Kota Mojokerto Kembali Bergelombang, Proyek Rp 5,2 Miliar Dikeluhkan Warga

 

Secara ilmiah, deja vu dikaitkan dengan fungsi memori otak, khususnya pada bagian lobus temporal yang berperan dalam pengolahan ingatan.

Deja vu muncul karena gangguan sementara dalam sistem memori jangka pendek dan jangka panjang, sehingga otak secara keliru menandai pengalaman baru sebagai sesuatu yang sudah dikenal.

Deja vu lebih sering dialami oleh orang yang memiliki kecerdasan tinggi, tingkat stres rendah, atau aktivitas otak yang aktif dalam memori asosiatif.

Artinya, otak yang sering mengaitkan pengalaman baru dengan pola lama cenderung lebih mudah terjebak dalam ilusi ini.

Berbeda dengan deja vu, nostalgia adalah rasa rindu yang lembut terhadap masa lalu, biasanya disertai kenangan indah atau hangat.

Kata nostalgia berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu nostos yang berarti pulang dan algos memiliki arti asa sakit. Secara harfiah, nostalgia berarti “rasa sakit karena ingin pulang”.

Ketika kamu mendengarkan lagu lama, mencium aroma khas rumah masa kecil, atau melihat foto masa sekolah dan merasa haru, itulah nostalgia.

Berbeda dengan deja vu yang bersifat ilusi memori, nostalgia justru merupakan ingatan nyata yang muncul kembali dalam kesadaran kita.

Dari sisi psikologi, nostalgia memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan emosi. Ia membantu seseorang merasa terhubung dengan masa lalu, menumbuhkan rasa identitas diri, serta memberikan kenyamanan di saat sedang merasa cemas atau kesepian.

Nostalgia dapat meningkatkan mood positif, memperkuat rasa optimisme, dan membantu individu menghadapi perubahan hidup.

Walaupun sama-sama melibatkan memori dan perasaan, deja vu dan nostalgia berasal dari proses otak yang berbeda dan menimbulkan efek emosional yang berlawanan.

Deja vu membuat kita bertanya-tanya tentang realitas pengalaman kita, sementara nostalgia mengajak kita bernostalgia pada kenangan yang benar-benar pernah terjadi.

 

Baca Juga: Tiga Ahli Bakal Bongkar Skandal Korupsi Kapal TBM Mojokerto di Tipikor Surabaya

 

Deja vu dan nostalgia sering dianggap mirip karena keduanya menimbulkan perasaan familiar, sensasi bahwa sesuatu terasa dikenal.

Bedanya, dalam deja vu, rasa familiar itu palsu, sedangkan dalam nostalgia, rasa itu nyata dan penuh makna.

Keduanya juga sama-sama memunculkan refleksi tentang waktu, deja vu mengaburkan batas antara masa kini dan masa lalu.

Sedangkan nostalgia menegaskan betapa berharganya masa lalu dalam membentuk siapa kita hari ini.

Deja vu dan nostalgia sama-sama menunjukkan betapa kompleks dan menakjubkannya pikiran manusia.

Deja vu adalah cerminan dari misteri otak yang terus menebak pola pengalaman, sedangkan nostalgia adalah cerminan dari hati yang menyimpan kenangan penuh makna.

Keduanya mengingatkan kita bahwa waktu bukan sekadar garis lurus antara masa lalu dan masa depan, tetapi ruang di mana ingatan dan perasaan saling bertaut.     

NIYA/Devi

 

Editor : Imron Arlado
#ilusi memori #deja vu #efek emosional #Perbedaan antara Deja Vu dan Nostalgia #Lifestyle #gaya hidup #nostalgia #ingatan nyata yang muncul kembali #masa lalu