Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tantangan Komunikasi di Media Sosial: Cepat Tapi Sering Salah Makna

Imron Arlado • Minggu, 2 November 2025 | 20:37 WIB
Komunikasi di media sosial semakin cepat tapi rawan salah makna.
Komunikasi di media sosial semakin cepat tapi rawan salah makna.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi salah satu kebutuhan utama manusia untuk berkomunikasi. Mulai dari menyampaikan opini, berbagi informasi, hingga menjalin relasi, semua dilakukan hanya dengan menggunakan handphone.

Namun, di balik kecepatan dan kemudahan yang ditawarkan untuk berkomunikasi, muncul tantangan besar yang dimana komunikasi yang serba cepat di media sosial sering sekali menimbulkan perbedaan makna atau salah tafsir dan miskomunikasi.

Komunikasi terdiri dari tiga komponen utama yakni, pengirim pesan (sender), pesan (message), dan penerima pesan itu sendiri (receiver). Dalam proses komunikasi tersebut, pesan bisa saja terganggu “noise”, yang menyebabkan makna pesan berubah atau bahkan salah paham. 

Dalam komunikasi di media sosial “noise” tidak hanya berarti gangguan seperti sinyal atau jaringan internet. Namun lain dari itu, “noise” dalam berkomunikasi di media sosial juga dapat berupa konteks yang hilang, emosi tidak tersampaikan, atau pemilihan kata yang ambigu.

Ketika seseorang menulis pesan singkat tanpa adanya intonasi dan ekspresi wajah, penerima pesan sering kali menafsirkan isi pesan tersebut berdasarkan persepsi pribadi.

Misalnya, “Aku baik-baik saja” pesan ini bisa berarti benar-benar baik atau sebaliknya, penerima bisa menafsirkan pesan tersebut bentuk marah.

 

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa elemen nonverbal dalam komunikasi seperti adanya intonasi, ekspresi wajah dan bahasa tubuh sering sekali hilang pada saat melakukan komunikasi berbasis teks. Akibatnya, pesan yang dikirimkan bisa kehilangan makna emosionalnya dan resiko adanya kesalahpahaman.

Media sosial menumbuhkan budaya komunikasi yang instan dan reaktif, hal ini membuat orang terbiasa berkomunikasi secara cepat dan langsung menanggapi sesuatu tanpa banyak pertimbangan.

Hal ini ditunjang karena pada media sosial terdapat fitur kolom komentar yang mendorong pengguna untuk dapat merespon dan menuangkan opininya.

Namun budaya komunikasi yang instan dan reaktif ini membuat penerima pesan di media sosial tidak memeriksa fakta, berkomentar tanpa berpikir dua kali atau tidak mempertimbangkan konteks emosional.

Akibatnya pesan atau komentar yang dilontarkan menjadi kurang akurat, disalahartikan dan terjadi konflik komunikasi di ruang digital. 

Kesalahan dalam menafsirkan pesan di media sosial sering sekali terjadi, banyak kasus seseorang tersinggung karena salah menafsirkan pesan di media sosial.

Untuk mengatasi kesalahan makna dalam berkomunikasi di media sosial, terdapat beberapa langkah yang bisa diterapkan antara lain:

1. Gunakan kalimat yang lengkap dan jelas untuk menghindari pesan yang ambigu

2. Tambahkan konteks emosional, misalnya dengan emoji atau penjelasan yang singkat

3. Jangan langsung bereaksi pada pesan yang mungkin kalian anggap menyinggung, beri waktu untuk memahami maksud pesan tersebut.

4. Gunakan komunikasi tatap muka seperti Video Call, telepon atau pesan suara untuk pembahasan penting atau pembahasan yang sensitif

Adanya komunikasi di media sosial memang menawarkan pengiriman pesan yang cepat dan efisien, tetapi cepatnya pesan yang terkirim sering sekali mengorbankan pemahaman makna.

 

 

Media sosial seharusnya mempermudah diri kita untuk memperkuat hubungan dan silaturahmi antar individu karena kecepatan dan keefisienan yang ditawarkan.

Jangan sampai media sosial membuat jarak diantara individu karena kesalahan tafsir. Maka dari itu ditengah derasnya informasi digital yang luas ini, mari kita bijak berkomunikasi di media sosial.

Septian Trio/Devi

Editor : Imron Arlado
#pesan #Ilmu Komunikasi #noise #media soisal #tantangan komunikasi #Salah Tafsir