JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Ada masa dalam hidup ketika segalanya terasa tidak jelas dan terasa berat untuk dilalui. Cita-cita yang dulu tampak jelas mendadak kehilangan arah, pencapaian orang lain terasa jauh di depan, dan setiap keputusan yang diambil terasa penuh keraguan.
Inilah fase yang dikenal banyak orang sebagai quarter-life crisis, masa penuh pertanyaan, tekanan, dan pencarian jati diri yang sering dialami oleh mereka yang berada di usia dua puluhan hingga awal tiga puluhan.
Quarter-life crisis bukan sekadar istilah populer di media sosial. Hal tersebut merupakan fase krisis emosional dan keberadaan yang dialami ketika seseorang mulai mempertanyakan arah hidupnya.
Umumnya terjadi pada individu berusia antara 20 hingga 30 tahun, masa di mana seseorang mulai menghadapi tanggung jawab nyata. Mulai dari pekerjaan, kemandirian finansial, hubungan, serta ekspektasi sosial.
Baca Juga: 10 Guru Ajukan Diri sebagai Nominator pada Event Guru Favorit
Berbeda dengan mid-life crisis yang dialami pada usia paruh baya, quarter-life crisis hadir saat seseorang baru memulai perjalanan dewasa.
Pada fase ini, banyak yang merasa tersesat di antara mimpi dan kenyataan, di antara keinginan pribadi dan tekanan sosial yang datang dari berbagai arah.
Bentuk quarter-life crisis bisa berbeda pada setiap orang, tetapi beberapa tanda umumnya yaitu:
- Merasa tidak puas dengan diri sendiri meski sudah mencapai sesuatu.
- Cemas terhadap masa depan, terutama soal karier, hubungan, atau keuangan.
- Sering membandingkan diri dengan orang lain, terutama lewat media sosial.
- Merasa kehilangan arah dan tidak tahu apa yang benar-benar diinginkan.
- Munculnya perasaan hampa atau bosan, bahkan saat melakukan hal-hal yang dulu disukai.
Fase ini bisa datang tiba-tiba terkadang setelah lulus kuliah, saat mulai bekerja, atau ketika melihat teman sebaya tampak lebih berhasil.
Tekanan di masa ini muncul dari berbagai sumber, baik internal maupun eksternal.
- Ekspektasi diri sendiri
Banyak anak muda dibesarkan dengan keyakinan bahwa kesuksesan harus dicapai di usia muda. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, rasa gagal dan cemas pun muncul.
- Tekanan sosial
Lingkungan sering kali menjadi cermin pembanding. Melihat teman menikah, berkarir sukses, atau memiliki rumah bisa membuat seseorang merasa tertinggal.
- Perubahan identitas
Masa dewasa awal adalah fase peralihan dari ketergantungan menuju kemandirian. Proses ini menimbulkan kebingungan: siapa diri kita sebenarnya dan apa tujuan hidup yang kita cari?
- Ketidakpastian zaman
Dunia yang serba cepat dan kompetitif membuat banyak orang merasa harus terus berlari tanpa tahu arah yang pasti.
Baca Juga: Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan Jadi Tujuan Studi Kriya Cor Kuningan Pelajar Yogyakarta
Tekanan ini sering kali menumpuk tanpa disadari, hingga pada titik tertentu seseorang merasa semua terasa salah. Meski berat, quarter-life crisis bukanlah akhir dari segalanya. Justru, fase ini sering menjadi titik balik menuju kedewasaan dan kesadaran diri.
Proses menemukan jati diri memang tidak mudah, tetapi ada beberapa langkah yang dapat membantu melewatinya:
- Berhenti sejenak dan merenungi diri.
Kadang yang kita butuhkan bukanlah solusi instan, melainkan waktu untuk berhenti dan mengenali apa yang benar-benar kita rasakan.
Tulis pikiran, emosi, dan hal-hal yang membuat gelisah. Dari sana, perlahan akan terlihat arah yang perlu kita tempuh.
- Mengurangi perbandingan sosial.
Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Apa yang berhasil untuk orang lain belum tentu cocok untuk diri kita. Fokus pada perjalanan sendiri, bukan perlombaan dengan orang lain.
- Mengubah krisis menjadi proses belajar.
Setiap kebingungan membawa pelajaran. Gagal, tersesat, atau mencoba hal baru adalah bagian dari proses menemukan apa yang paling sesuai dengan diri sendiri.
- Membangun rutinitas kecil yang menumbuhkan.
Merawat diri lewat kebiasaan sederhana seperti membaca, berolahraga, atau beristirahat cukup bisa membantu menenangkan pikiran yang kacau.
Meski terdengar menakutkan, quarter-life crisis sebenarnya adalah undangan untuk bertumbuh. Hal itu memaksa kita berhenti hidup dengan autopilot dan mulai benar-benar memahami diri.
Rasa cemas dan tidak pasti yang muncul bisa menjadi bahan bakar untuk menemukan versi terbaik dari diri kita sendiri.
Setelah melewati masa ini, banyak orang menyadari bahwa krisis tersebut membawa mereka lebih dekat pada hal yang benar-benar penting seperti nilai hidup.
Baca Juga: Bertambah, Kuota Kabupaten Tembus 1.293 CJH
Ketika semua terasa salah, mungkin bukan hidup yang keliru, melainkan tanda bahwa kita sedang diajak untuk lebih mengenal diri sendiri.
Quarter-life crisis bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari bab baru yang lebih matang dan penuh kesadaran.
NIYA/Linda
Editor : Imron Arlado