JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dalam kehidupan modern saat ini, hampir seluruh aktivitas manusia telah terhubung dengan layar, mulai dari bekerja, belajar, bersosialisasi, hingga mencari hiburan.
Media digital yang telah mendominasi berbagai aktivitas manusia kerap kali menjadi pemicu munculnya rasa jenuh meskipun tidak melakukan kegiatan fisik yang berat.
Kondisi seperti ini biasanya disebut sebagai digital fatigue atau kelelahan digital, yakni rasa kelelahan mental yang muncul karena paparan perangkat digital dan arus berita tanpa henti yang berlebih.
Di era modern serba digital saat ini, notifikasi akan terus berdatangan, aliran berita mengalir tanpa henti, dan tekanan untuk selalu "update" di sosial media dapat membuat otak manusia kesulitan untuk memproses semuanya.
Kondisi tersebut kerap kali memunculkan pertanyaan, "apakah manusia berhasil mengendalikan teknologi? atau justru teknologi yang mengendalikan kehidupan manusia?".
Dalam situasi seperti ini, gaya hidup digital minimalism muncul sebagai jawaban praktis bagi masyarakat yang hidup di era serba digital.
Digital minimalism sendiri merupakan sebuah gaya hidup yang menekankan penggunaan perangkat atau platform digital secara sadar, terbatas, dan bernilai.
Artinya, seseorang bukan menolak atau menghindari adanya teknologi, tetapi memilih untuk menggunakannya hanya ketika benar-benar dibutuhkan saja. Prinsip utama gaya hidup ini adalah "lebih sedikit, namun lebih bermakna."
Baca Juga: Freediving, Ketika Laut Menjadi Tempat untuk Mengenal Diri Sendiri
Konsep ini mulanya diperkenalkan oleh seorang penulis dan profesor asal Amerika yang bernama Cal Newport.
Ia berpendapat bahwa penggunaan digital harus dirancang agar menjadi sesuatu yang mendukung nilai-nilai hidup seseorang, bukan malah mengalihkan fokus dari hal-hal yang penting.
Meski terlihat mirip, digital minimalism berbeda dengan digital detox yang bersifat hanya sementara.
Digital minimalism adalah perubahan pola pikir atau komitmen jangka panjang untuk tidak membiarkan teknologi digital mengambil alih kendali ruang di kehidupan nyata.
Beberapa langkah sederhana yang dapat membantu seseorang untuk menerapkan gaya hidup digital minimalism adalah menghapus aplikasi yang tidak benar-benar dibutuhkan dan menonaktifkan notifikasi yang tidak penting.
Membatasi waktu aktif bermain perangkat digital seperti ponsel dengan mengaktifkan fitur screen time juga dinilai efektif untuk mengontrol kebiasaan tanpa harus meninggalkan teknologi sepenuhnya.
Selain itu, membuat jadwal jam bebas ponsel atau bebas perangkat digital lainnya juga menjadi salah satu langkah paling mudah untuk diterapkan. Contohnya saat satu jam sebelum tidur atau saat makan.
Tak hanya itu, mengikuti akun akun konten kreator yang inspiratif dan berhenti mengikuti akun konten kreator yang toksik juga dapat membantu menjaga kebersihan pola pikir digital.
Sederhananya, dalam gaya hidup ini bukan berapa banyak waktu yang dihabiskan di dunia digital, melainkan seberapa berharga pengalaman tersebut bagi diri sendiri.
Tren gaya hidup digital minimalism ini muncul sebagai reaksi dari fenomena information overload atau kondisi di mana manusia diserbu oleh berbagai informasi dalam kurun waktu yang singkat.
Di era media sosial ini, orang-orang berlomba untuk tampil sempurna dan aktif mengikuti arus tren terbaru.
Namun di balik itu, tekanan psikologis mulai muncul dan membuat banyak orang merasa kehilangan kendali atas waktu serta fokus mereka sendiri.
Baca Juga: Menikmati Waktu Luang dengan Tontonan Hangat, Ini Dia 3 Rekomendasi Drama China Populer Karya Zhu Yi
Pandemi COVID 19 juga memiliki pengaruh besar dalam konteks ini karena aktivitas daring meningkat pesat dan ruang pribadi seseorang untuk tenang semakin menyempit.
Menerapkan gaya hidup digital minimalism ini tentunya membawa berbagai manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya seperti, tingkat fokus dan perhatian seseorang terhadap sesuatu meningkat karena tidak terus terpecah oleh notifikasi sekaligus distraksi visual.
Melalui penerapan digital minimalism, kesehatan mental seseorang juga bisa lebih stabil karena rasa cemas dan stres akibat perbandingan di media sosial berkurang.
Hubungan dengan orang sekitar juga menjadi lebih asli, nyata, dan dalam karena interaksi kembali dilakukan secara langsung, bukan sekedar lewat layar.
Selain itu, waktu luang yang biasanya terbuang untuk scrolling dapat digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan produktif yang lebih bermanfaat.
Dalam jangka panjang, gaya hidup digital minimalism dapat membantu orang individu untuk menemukan kembali keseimbangan antara dunia nyata dan dunia online.
Baca Juga: Mediasi Perceraian Andre Taulany Dinyatakan Gagal, Ini Penyebabnya
Gaya hidup digital minimalism bukanlah gerakan anti-teknologi, tetapi ajakan untuk sejenak menepi dan hidup lebih sadar di tengah ritme kehidupan modern yang cepat sekaligus penuh tuntutan.
Maka dari itu, menerapkan gaya hidup ini dan sejenak menepi dari hiruk pikuk dunia digital bukan berarti ketinggalan, melainkan langkah kecil untuk kembali merasa utuh sebagai manusia.
FANEZA
Editor : Imron Arlado