JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia untuk memulihkan energi, menjaga fungsi otak, dan memperbaiki sistem tubuh. Namun, tidak semua orang dapat menikmati tidur yang berkualitas.
Salah satu gangguan tidur yang sering terjadi namun kerap diabaikan adalah sleep apnea. Gangguan ini bukan sekadar mendengkur keras saat tidur, tetapi kondisi serius yang dapat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan tepat.
Apa Itu Sleep Apnea?
Sleep apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan berhentinya napas secara berulang selama tidur. Henti napas ini bisa berlangsung beberapa detik hingga lebih dari satu menit, dan dapat terjadi puluhan hingga ratusan kali dalam satu malam.
Akibatnya, kadar oksigen dalam darah menurun dan otak memaksa tubuh untuk terbangun sejenak agar pernapasan kembali normal. Kondisi inilah yang membuat penderita sleep apnea sering tidak mendapatkan tidur yang nyenyak meskipun durasi tidurnya cukup panjang.
Baca Juga: Hidup di Era Kebisingan Digital, Gaya Hidup Digital Minimalism sebagai Bentuk Kebebasan Baru
Jenis-jenis Sleep Apnea
Secara umum, terdapat tiga jenis sleep apnea yang paling dikenal:
- Obstructive Sleep Apnea (OSA) – Jenis yang paling umum terjadi, disebabkan oleh penyempitan saluran napas akibat otot tenggorokan yang terlalu rileks saat tidur.
- Central Sleep Apnea (CSA) – Terjadi karena otak gagal mengirim sinyal yang tepat ke otot pernapasan, sehingga pernapasan berhenti sementara.
- Complex Sleep Apnea Syndrome – Kombinasi antara OSA dan CSA, yang merupakan kondisi lebih kompleks dan memerlukan penanganan khusus.
Gejala Sleep Apnea
Tanda-tanda seseorang mengalami sleep apnea antara lain:
- Mendengkur keras dan tidak teratur
- Terbangun tiba-tiba dengan rasa tercekik atau sulit bernapas
- Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil
- Rasa kantuk berlebihan di siang hari
- Sakit kepala saat bangun tidur
- Sulit konsentrasi dan mudah marah
Sayangnya, banyak penderita tidak menyadari bahwa mereka mengalami sleep apnea, karena gejala utama terjadi saat mereka tertidur. Biasanya, pasangan tidur atau anggota keluarga lah yang pertama kali menyadari adanya tanda-tanda tersebut.
Faktor Risiko dan Bahayanya
Sleep apnea dapat dialami siapa saja, namun resikonya lebih tinggi pada orang yang mengalami obesitas, memiliki leher besar, berjenis kelamin pria, berusia di atas 40 tahun, atau memiliki riwayat keluarga dengan gangguan serupa. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan tidur terlentang juga dapat memperparah kondisi ini.
Jika tidak ditangani, sleep apnea dapat memicu berbagai komplikasi serius seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, bahkan gagal jantung. Selain itu, kantuk berlebihan di siang hari dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan lalu lintas.
Baca Juga: Freediving, Ketika Laut Menjadi Tempat untuk Mengenal Diri Sendiri
Cara Mengatasi Sleep Apnea
Penanganan sleep apnea tergantung pada tingkat keparahan dan penyebabnya. Perubahan gaya hidup seperti menurunkan berat badan, berhenti merokok, menghindari alkohol, serta mengatur posisi tidur bisa membantu mengurangi gejalanya.
Pada kasus yang lebih berat, dokter dapat merekomendasikan penggunaan alat bantu pernapasan seperti Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) yang membantu menjaga saluran nafas tetap terbuka saat tidur. Dalam beberapa kasus tertentu, tindakan operasi juga mungkin diperlukan. AILEEN