JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah princess treatment menjadi tren yang ramai dibicarakan.
Istilah ini merujuk pada perlakuan istimewa yang diberikan oleh pasangan, biasanya laki-laki kepada kekasihnya, layaknya seorang putri.
Bentuknya bisa beragam, mulai dari membukakan pintu mobil, memberi hadiah secara mendadak, menjemput setiap kali pulang kerja, hingga selalu berusaha menuruti keinginan pasangan.
Sekilas, konsep ini terdengar manis dan romantis. Namun di balik kilau romantismenya, princess treatment juga menyimpan sisi lain yang perlu diketahui lebih dalam.
Princess treatment sering kali tidak lagi sekadar bentuk kasih sayang alami, melainkan berubah menjadi ekspektasi yang harus dipenuhi.
Banyak orang terutama di dunia digital mulai mengukur cinta dari seberapa besar pasangan memperlakukan mereka seperti seorang putri.
Ungkapan seperti “kalau dia benar-benar cinta, dia pasti memperlakukan aku seperti princess” kerap muncul dalam percakapan daring maupun nyata.
Padahal, cinta sejati tidak selalu hadir dalam bentuk gestur romantis yang terlihat. Ia bisa berupa dukungan emosional saat pasangan sedang jatuh, komunikasi terbuka ketika menghadapi konflik, atau rasa hormat terhadap kebebasan pribadi.
Ketika romantisme dijadikan tolok ukur utama, hubungan bisa terjebak dalam permukaan tanpa menyentuh kedalaman emosional yang sesungguhnya.
Masalah mulai muncul ketika princess treatment menjadi kewajiban, bukan lagi pilihan yang lahir dari ketulusan.
Dalam situasi ini, salah satu pihak bisa merasa terbebani untuk terus memberikan perlakuan istimewa agar hubungan tetap “terlihat” bahagia.
Sementara pihak lain bisa tanpa sadar mengembangkan sikap bergantung atau merasa berhak atas perlakuan tersebut, tanpa memberi timbal balik yang setara.
Ketidakseimbangan ini dapat menimbulkan tekanan emosional. Pihak yang memberi bisa merasa lelah karena terus dituntut untuk menunjukkan cinta dengan cara yang sama setiap saat.
Sedangkan pihak yang menerima bisa kehilangan apresiasi terhadap makna sebenarnya dari perlakuan itu bukan lagi tentang cinta, tapi tentang validasi diri.
Media sosial berperan besar dalam membentuk persepsi tentang hubungan ideal. Video pasangan yang saling memberi kejutan, berlibur mewah, atau membelikan hadiah mahal kerap viral dan mendapat banyak pujian.
Tanpa disadari, hal ini menciptakan standar baru bahwa cinta sejati harus selalu ditunjukkan secara megah dan konsisten.
Namun kenyataannya, setiap hubungan memiliki perubahan dan kemampuan yang berbeda. Tidak semua orang mampu mengekspresikan cinta dengan cara yang sama.
Ada yang menunjukkan kasih sayang lewat perhatian kecil dan kehadiran, bukan lewat hadiah atau gestur besar.
Ketika standar media sosial dijadikan patokan, banyak hubungan justru menjadi penuh tekanan dan rasa tidak cukup. Princess treatment sejatinya bisa menjadi hal positif jika dijalankan secara seimbang.
Dalam hubungan yang sehat, perhatian dan kasih sayang bukan soal siapa yang lebih memberi, tetapi tentang saling menghargai dan memahami kebutuhan masing-masing.
Menjadi putri dalam hubungan bukan berarti selalu dilayani, tapi merasa aman, dihormati, dan diperlakukan dengan penuh kasih.
Begitu pula, pasangan yang memberi perlakuan istimewa tidak seharusnya merasa terbebani, melainkan melakukannya karena benar-benar ingin.
Ketika kedua pihak memahami bahwa cinta bukan soal siapa yang lebih romantis, tetapi siapa yang lebih tulus dan bertanggung jawab terhadap perasaan satu sama lain.
Cinta yang dewasa tidak mengharuskan seseorang untuk menjadi pahlawan atau putri setiap saat.
Terkadang, yang paling dibutuhkan bukan hadiah atau kejutan, melainkan waktu, perhatian, dan empati.
Keseimbangan adalah kunci. Memberi princess treatment sesekali bukan masalah, selama dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan.
Namun, penting juga untuk membangun hubungan yang setara, di mana kedua pihak bisa saling memberi dan menerima tanpa merasa terbebani oleh ekspektasi romantisme yang tidak realistis.
Princess treatment memang terdengar indah, dan bagi sebagian orang, itu adalah cara mereka mengekspresikan cinta.
Namun ketika romantisme berubah menjadi tuntutan, hubungan bisa kehilangan makna sejatinya.
Cinta yang sehat seharusnya tidak mengandalkan pembuktian lewat perlakuan berlebihan, melainkan tumbuh dari rasa saling menghargai, memahami, dan bertumbuh bersama.
NIYA
Editor : Imron Arlado