JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Sejak kecil mereka telah terbiasa menggunakan smartphone, laptop, dan media sosial, sehingga aktivitas multitasking digital menjadi bagian dari keseharian.
Tidak jarang mereka mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik, membuka media sosial, atau menonton video secara bersamaan. Sekilas kebiasaan ini tampak wajar, bahkan dianggap efisien, namun dampaknya tidak selalu positif.
Salah satu pengaruh terbesar multitasking digital adalah menurunnya fokus. Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk mengerjakan banyak hal sekaligus. Yang terjadi hanyalah perpindahan fokus cepat atau task switching.
Setiap kali berpindah, otak membutuhkan energi kognitif tambahan. Jika dilakukan terus-menerus, konsentrasi menurun dan kualitas pekerjaan menjadi kurang maksimal. Hal ini membuat tugas yang seharusnya cepat selesai justru memakan waktu lebih lama.
Selain itu, multitasking digital juga menurunkan efisiensi. Banyak Gen Z yang merasa produktif karena bisa melakukan beberapa hal sekaligus, padahal sering kali hasilnya tidak optimal.
Contoh sederhana adalah ketika belajar sambil membuka media sosial. Perhatian mudah terpecah oleh notifikasi, sehingga materi pelajaran tidak terserap baik.
Jika kebiasaan ini berlangsung lama, dampaknya bisa terasa pada kinerja akademis maupun pekerjaan sehari-hari.
Meski begitu, multitasking digital tidak selalu buruk. Beberapa orang merasa lebih semangat jika mengerjakan sesuatu sambil mendengarkan musik atau podcast. Bagi sebagian Gen Z, suasana ini membantu mengurangi rasa bosan dan menambah motivasi.
Baca Juga: Desa Ngoro, Kecamatan Ngoro Terima Bantuan Motor Sampah dan Apar untuk Tingkatkan Layanan
Di sisi lain, kemampuan berpindah cepat antar-tugas juga bisa menjadi kelebihan di dunia kerja modern yang menuntut fleksibilitas. Tantangannya adalah mengatur kapan multitasking bermanfaat dan kapan harus fokus penuh.
Fenomena multitasking digital pada Gen Z juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Tekanan akademis, tuntutan pekerjaan, serta budaya cepat membuat mereka merasa harus melakukan banyak hal sekaligus.
Media sosial yang selalu menghadirkan informasi baru setiap detik juga mendorong munculnya rasa takut tertinggal atau FOMO. Akibatnya, kebiasaan berpindah-pindah aktivitas digital semakin sulit dikendalikan.
Jika tidak dikelola dengan baik, multitasking digital dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Stres, rasa cemas, dan kelelahan kognitif bisa muncul karena otak bekerja melebihi kapasitas normal.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengurangi kemampuan daya ingat dan menurunkan kualitas interaksi sosial di dunia nyata. Oleh sebab itu, kesadaran akan batas diri sangat diperlukan agar kebiasaan multitasking tidak berkembang menjadi beban.
Strategi pengelolaan waktu menjadi kunci penting. Metode seperti Pomodoro Technique yang lebih fokus bekerja selama 25 menit lalu istirahat singkat dan dapat melatih otak untuk tetap konsentrasi tanpa lelah.
Membatasi notifikasi media sosial saat belajar atau bekerja juga dapat mengurangi distraksi. Selain itu, menjaga keseimbangan dengan aktivitas non-digital, serta olahraga atau interaksi langsung, membantu mengurangi ketergantungan pada perangkat digital.
Kualitas tetap lebih penting daripada kuantitas. Menyelesaikan satu tugas dengan baik lebih berharga dibanding mengerjakan banyak hal sekaligus tanpa hasil maksimal.
Dengan pemahaman yang tepat, Gen Z dapat memanfaatkan teknologi secara sehat, efisien, dan produktif. Multitasking digital bukan lagi kebiasaan yang merugikan, melainkan keterampilan yang bisa dikelola sesuai kebutuhan. AILEEN /FADYA
Editor : Imron Arlado