Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sleepwalker, Gangguan Tidur yang Tidak Boleh Diremehkan

Imron Arlado • Jumat, 26 September 2025 | 05:43 WIB
Fenomena seseorang berjalan, berbicara, atau bahkan melakukan aktivitas tertentu saat tidur. Sumber Foto: Google
Fenomena seseorang berjalan, berbicara, atau bahkan melakukan aktivitas tertentu saat tidur. Sumber Foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Fenomena seseorang berjalan, berbicara, atau bahkan melakukan aktivitas tertentu saat tidur sering kali dianggap sebagai hal yang unik untuk diceritakan.

Fenomena ini dikenal dengan istilah sleepwalking. Meskipun sebagian besar kasus terjadi tanpa membahayakan diri, kenyataannya sleepwalking bisa menjadi tanda adanya gangguan tidur serius yang berpotensi mengancam keselamatan.

Sleepwalking bukan sekadar berjalan sambil tidur,  melainkan suatu kondisi medis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, dan lingkungan.

Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai kebiasaan ini penting agar kita dapat memberikan penanganan yang tepat, baik bagi penderita maupun lingkungannya.

Sleepwalking merupakan gangguan tidur yang termasuk dalam kelompok parasomnia, yaitu perilaku abnormal yang muncul selama tidur.

Fenomena ini biasanya terjadi pada tahap tidur non-REM gelombang lambat, ketika otak berada dalam kondisi setengah terjaga dan setengah tertidur.

 

Baca Juga: Aisar Khaled Diusir dari Bali, Singgung Pekerja Indonesia di Malaysia dan Picu Polemik Netizen

 

Ciri khas sleepwalking adalah penderita terlihat seperti sadar: mata terbuka, tubuh bisa bergerak, bahkan mampu melakukan tindakan kompleks seperti berbicara, berjalan keluar kamar, atau menyusun barang.

Namun sebenarnya, kesadaran mereka tidak penuh. Setelah terbangun, mereka biasanya tidak mengingat apa pun dari kejadian tersebut.

Fenomena sleepwalking tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang berperan, baik yang bersifat bawaan maupun lingkungan. Beberapa penyebab umum antara lain:

  1. Faktor Genetik

Sleepwalking cenderung bersifat menurun. Anak yang memiliki salah satu orang tua dengan riwayat sleepwalking memiliki risiko lebih tinggi mengalaminya.

  1. Kurang Tidur dan Kelelahan

Tubuh yang kelelahan atau kurang tidur dapat memicu gangguan pada pola tidur, sehingga memperbesar peluang terjadinya sleepwalking.

  1. Stres dan Kecemasan

Tekanan mental yang berat dapat mempengaruhi kualitas tidur, meningkatkan risiko mimpi buruk, serta memicu parasomnia seperti sleepwalking.

  1. Kondisi Medis Tertentu

Sleepwalking dapat berhubungan dengan gangguan kesehatan seperti epilepsi, asma, refluks asam lambung, gangguan kecemasan, atau sindrom kaki gelisah.

  1. Obat-obatan dan Zat Tertentu

Beberapa jenis obat penenang, obat tidur, maupun konsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sleepwalking.

  1. Perubahan Lingkungan Tidur

Tidur di tempat baru, perubahan rutinitas, atau lingkungan yang berisik bisa memicu terjadinya sleepwalking.

 

Baca Juga: Mengenal Gangguan Kepribadian Paranoid dan Gejala yang Sering Terabaikan oleh Banyak Orang

 

Sleepwalking sering kali dianggap tidak berbahaya karena sebagian penderita hanya berjalan beberapa langkah lalu kembali tidur. Namun, pada kenyataannya terdapat sejumlah risiko serius yang patut diwaspadai, antara lain:

Penderita dapat tersandung, terjatuh dari tangga, atau menabrak benda keras. Kasus serius bahkan menunjukkan ada penderita yang mengalami luka parah akibat kecelakaan saat sleepwalking.

Penderita sleepwalking bisa menyalakan kompor, membuka pintu rumah, hingga mencoba mengendarai kendaraan. Kondisi ini tentu sangat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Kebiasaan sleepwalking yang berulang dapat mengganggu pola tidur, menurunkan kualitas istirahat, dan membuat penderita merasa lelah di siang hari. Hal ini berdampak pada menurunnya konsentrasi, daya ingat, serta produktivitas belajar.

Penderita sleepwalking, terutama remaja dan dewasa, sering merasa malu, cemas, atau takut tidur karena khawatir mengalami kejadian serupa. Kondisi ini dapat mempengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang.

Tidak ada satu metode khusus yang bisa menyembuhkan sleepwalking secara instan. Namun, ada beberapa langkah pencegahan dan penanganan yang bisa dilakukan:

  1. Menciptakan Lingkungan Tidur yang Aman

Memastikan pintu dan jendela terkunci rapat, menyingkirkan benda tajam atau berbahaya di kamar, memasang pagar pengaman di tangga untuk anak-anak.

  1. Menjaga Pola Tidur yang Teratur

Tidur cukup, idealnya 7–9 jam untuk orang dewasa, hindari begadang dan usahakan tidur pada jam yang sama setiap hari.

  1. Mengelola Stres

Lakukan aktivitas relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam sebelum tidur, hindari aktivitas berat atau penggunaan gawai berlebihan menjelang tidur.

  1. Menghindari Pemicu

Kurangi konsumsi alkohol, kafein, dan obat-obatan tertentu yang dapat mengganggu pola tidur.

  1. Terapi dan Konsultasi Medis

Jika sleepwalking sering terjadi atau membahayakan, konsultasikan dengan dokter spesialis tidur.

 

Baca Juga: Jalani Sidang Perceraian Perdana, Tasya Farasya Tunjukkan Ketegaran di Hadapan Media

 

Sleepwalking bukan sekadar kebiasaan unik atau lucu yang dapat diabaikan. Fenomena ini termasuk dalam gangguan tidur yang bisa menimbulkan dampak berbahaya, mulai dari cedera fisik, gangguan psikologis, hingga menurunkan kualitas hidup.

Dengan pemahaman yang baik, kesadaran untuk menjaga pola tidur sehat, serta perhatian terhadap faktor risiko, sleepwalking dapat diminimalisasi dampaknya.

Terutama bagi penderita dewasa yang mengalami episode berulang dan membahayakan, konsultasi dengan tenaga medis sangat disarankan agar penanganan dapat dilakukan secara tepat.

NIYA/FADYA

Editor : Imron Arlado
#sleepwalking #berjalan sambil tidur #gangguan tidur #kebiasaan #Lifestyle #dampak #ciri khas