JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dalam percakapan sehari-hari anak muda zaman sekarang, istilah bahasa gaul seringkali diambil dari bahasa asing. Salah satunya adalah Tone deaf.
Jika dalam arti harfiah isitilah ini merujuk pada ketidakmampuan seseorang mengenali nada dalam musik, dalam bahasa gaul anak muda istilah tersebut mengalami perluasan makna.
Tone deaf kini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak peka, salah membaca situasi, atau gagal menempatkan diri dengan tepat.
Secara medis atau musikal, tone deaf berarti seseorang yang tidak mampu membedakan nada atau melodi. Namun, di era media sosial, istilah ini berkembang menjadi ungkapan kultural.
Saat seseorang disebut tone deaf oleh netizen, biasanya bukan karena ia tidak bisa bernyanyi, melainkan karena ucapannya dianggap sensitif terhadap kondisi atau perasaan orang lain.
Misalnya, ketika ada bencana alam dan seseorang justru mengunggah konten bercanda mengenai hal tersebut, banyak orang akan menganggapnya tone deaf, alias tidak tahu waktu dan tidak punya empati.
Bagi Gen Z dan milenial muda, istilah ini menjadi bagian dari percakapan digital, terutama di media sosial seperti Twitter/X, Instagram, hingga TikTok.
Frasa seperti “Duh, dia tuh tone deaf banget” sering muncul sebagai komentar terhadap sikap publik figur atau teman sebaya yang dinilai tidak peka.
Menariknya, penggunaan istilah asing ini memperlihatkan bagaimana anak muda sering meminjam bahasa global untuk memperkaya ekspresi lokal.
Seolah-olah, kata tidak peka terdengar lebih kuat dan lebih kekinian saat diganti dengan tone deaf.
Istilah ini relevan karena di era digital, empati sosial menjadi salah satu tolak ukur penting. Saat semua hal cepat tersebar, kesalahan kecil dalam sikap atau pernyataan bisa langsung dikritik.
Seseorang yang dianggap tone deaf biasanya:
- Tidak mempertimbangkan konteks sosial atau emosional.
- Tidak memahami timing dalam berbicara atau bertindak.
- Lebih fokus pada dirinya sendiri dibanding situasi sekitar.
Akibatnya, bukan hanya reputasi yang bisa rusak, tapi juga relasi sosial dalam lingkaran pertemanan maupun publik luas.
Sikap peka bukan hanya sekedar soal etika, tetapi juga tentang membangun hubungan yang sehat. Anak muda yang mampu membaca situasi dengan tepat biasanya lebih mudah diterima, dipercaya, dan dihargai.
Sebaliknya, sikap tone deaf dapat membuat seseorang dijauhi karena dianggap tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi.
Bagi generasi muda, istilah tone deaf terdengar lebih ekspresif dibanding kata tidak peka. Ada nuansa global dan modern, sekaligus kritik yang terasa lebih keras ketika digunakan di media sosial.
Generasi muda, terutama Gen Z, tumbuh dalam ekosistem digital di mana isu sosial dengan cepat tersebar.
Mereka terbiasa terpapar berita tentang bencana, ketidakadilan, hingga perjuangan komunitas tertentu. Karena itu, mereka cenderung lebih sensitif terhadap isu empati dan keadilan sosial.
Menyebut seseorang tone deaf menjadi cara anak muda untuk:
- Mengingatkan bahwa setiap ucapan atau tindakan memiliki dampak.
- Menegur mereka yang tidak peduli dengan konteks sosial.
- Menunjukkan standar baru dalam komunikasi publik: harus peka, empatik, dan relevan.
Tone deaf mungkin berasal dari istilah musik, tetapi kini telah menjadi cermin sikap dalam kehidupan sosial. Di mata anak muda, sebutan ini bukan hanya sekedar label gaul, melainkan kritik terhadap ketidak pekaan.
Pada akhirnya, bahasa gaul akan terus berubah, namun satu hal yang selalu relevan adalah pentingnya peka terhadap perasaan dan kondisi orang lain. Karena di era serba cepat ini, empati adalah bahasa universal yang tak akan pernah basi.
NIYA/Wulandari
Editor : Imron Arlado