Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Fenomena Fatherless di Indonesia, Memahami Dampak Sosial dari Hilangnya Sosok Figur Ayah

Imron Arlado • Jumat, 12 September 2025 | 05:13 WIB
Fenomena fatherless di Indonesia
Fenomena fatherless di Indonesia

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Akhir-akhir ini istilah fatherless ramai diperbincangkan terutama di sosial media, khususnya di kalangan Gen Z.

Istilah ini kerap digunakan untuk menggambarkan fenomena anak yang tumbuh tanpa kehadiran atau peran aktif seorang ayah di kehidupan sehari-harinya.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan fenomena ini, bukan hanya karena perceraian atau ditinggal pergi, tetapi juga karena banyak ayah yang hadir secara fisik tapi absen secara emosional.

Fenomena inilah yang akhirnya melahirkan istilah baru, yaitu fatherless dan memicu diskusi luas tentang dampaknya terhadap perkembangan anak, baik secara psikologis maupun sosialnya.

Di Indonesia, masih banyak orang yang beranggapan jika mengasuh anak hanya tanggung jawab dan tugas ibu saja. Padahal, mengasuh anak tidak boleh dibebankan kepada ibu saja, tetapi peran dan kehadiran seorang ayah juga diperlukan.

 

 

Fatherless atau father absence adalah suatu kondisi di mana tidak adanya figure ayah dalam pola asuh anak.

Istilah ini awalnya banyak digunakan di luar negeri saja, khususnya di Amerika Serikat, untuk menggambarkan kondisi anak-anak yang tidak tumbuh bersama figur sang ayah.

Namun, maknanya menjadi berkembang. Tidak hanya sekedar ketiadaan fisik, tetapi juga menyangkut emosional ayah dalam peran pengasuhan.

Istilah ini kemudian masuk ke Indonesia dan menjadi populer di media sosial, terutama warganet yang merasa relate dengan realita kehidupan keluarga zaman sekarang.

Banyak dari orang-orang yang masih salah mengartikan istilah ini, fatherless bukan berarti kehilangan ayah karena meninggal, tetapi lebih diartikan sebagai kondisi ketika sang ayah tidak dapat hadir baik secara fisik maupun emosional untuk anaknya.

 

Di Indonesia, fenomena fatherless mendapat sorotan karena dianggap cukup tinggi. Beberapa sumber bahkan menyebutkan jika Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat fatherless yang signifikan di Asia.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari pola asuh tradisional yang menempatkan figur ayah hanya sebagai pencari nafkah, perceraian, hingga migrasi kerja.

Akibatnya, banyak anak yang tumbuh tanpa ikatan emosional yang kuat dengan ayah mereka.

 

 

Dampaknya cukup serius, terutama bagi sang anak. Ketiadaan figur ayah ini mengakibatkan psikologis anak terganggu, kesulitan dalam mencari relasi sosial, hingga rendahnya kepercayaan diri.

Beberapa penelitian juga mengatakan bahwa figur ayah yang absen dapat mempengaruhi cara anak membangun hubungan di masa depan.

Inilah sebabnya fenomena fatherless dianggap sebagai masalah sosial yang perlu diperhatikan, bukan hanya sekedar trend an istilah di media sosial.

Natasia Reyna/Devi

Editor : Imron Arlado
#ayah #Dampak Sosial #orang tua #fatherless #anak #fenomena #Gen Z