JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di era modern saat ini, segala hal bergerak dengan ritme yang lebih cepat dari era sebelumnya. Hal ini juga dipicu oleh kemajuan teknologi yang semakin canggih dan gaya hidup masyarakat yang terus berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman.
Perubahan tersebut tak hanya dapat dilihat dalam bidang komunikasi dan transportasi saja, tetapi juga sangat terasa dalam dunia fashion.
Dunia fashion sebagai salah satu hal yang bergerak dengan ritme cepat mengikuti perkembangan zaman selalu mengalami pergantian tren fashion di setiap musim atau bahkan di setiap minggu.
Tren pakaian yang terus hadir silih berganti dengan cepat mampu membuat masyarakat merasa terdorong untuk selalu mengikuti gaya terbaru.
Siklus produksi pakaian yang cepat ini umumnya disebut dengan fenomena fast fashion yang kemudian hasilnya memberi pengaruh terhadap produksi yang semakin cepat, dipakai secara singkat, lalu dibuang dan berganti lagi dengan model pakaian yang terbaru.
Dampak yang muncul secara nyata dari fenomena fast fashion ini berupa tumpukan pakaian bekas yang sulit diolah menjadi sampah tekstil, tercemarnya air karena polusi dari proses pewarnaan, dan penggunaan air serta energi yang besar.
Emisi karbon dan polusi air juga dapat mengalami peningkatan akibat produksi sekaligus distribusi fast fashion yang masif.
Tak berhenti di situ, fast fashion juga turut andil dalam kejadian terhambatnya proses penguraian sampah karena penggunaan bahan sintetis berbahan plastik yang sulit terurai dan menghasilkan mikroplastik di lingkungan.
Baca Juga: BRI Pimpin Industri Keuangan Nasional di Peringkat Teratas
Kemudian, limbah pakaian yang cepat dibuang akan berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar yang dapat mencemari tanah dan udara.
Dari kondisi itulah kemudian muncul gerakan yang disebut dengan gerakan green fashion, yakni sebuah upaya untuk membuat bumi tetap terjaga dengan membuat dunia fashion lebih ramah lingkungan dan lebih adil secara sosial.
Green fashion yang juga kerap kali disebut sebagai sustainable fashion merupakan konsep mode industri busana yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Prinsip tersebut dilakukan dengan cara lebih memperhatikan penggunaan bahan, proses produksi, dan metode konsumsi yang dapat meminimalisir dampak buruk terhadap lingkungan.
Penggunaan bahan pada konsep green fashion bukan sekedar penggunaan bahan yang “alami” saja, tetapi juga meliputi cakupan yang lebih luas.
Contohnya seperti bagaimana bahan tersebut ditanam atau dibuat, tenaga kerja di pabrik, penggunaan energi dan air, serta memastikan apakah produk tersebut dapat didaur ulang.
Tak sedikit masyarakat di seluruh penjuru dunia ini menganggap bahwa tren green fashion adalah sebuah gerakan yang penting.
Hal tersebut dikarenakan fokus utama green fashion adalah untuk mengurangi limbah, menurunkan emisi karbon, memakai bahan alami yang lebih aman, dan mengurangi penggunaan sumber daya alam secara berlebihan.
Green fashion juga muncul dalam wujud yang beragam, beberapa bentuk green fashion yang paling banyak diketahui adalah slow fashion, upcycling atau recycling, dan thrifting atau second hand.
Secara singkat, slow fashion merupakan konsep produksi yang fokus pada desain dan kualitas yang tahan lama serta produksi yang lebih sedikit namun menghasilkan produk dengan kualitas tinggi.
Selanjutnya adalah upcycling atau recycling, sebuah kegiatan daur ulang yang memanfaatkan bahan-bahan bekas seperti kain atau pakaian menjadi produk baru yang bernilai.
Baca Juga: Desa Kembangsri, Kecamatan Ngoro Kembangkan Arena Bumi Perkemahan dan Wisata Terpadu
Sementara itu, thrifting merupakan kegiatan jual beli dan memakai kembali pakaian bekas. Di beberapa komunitas, thrifting juga menjadi ekspresi gaya yang unik.
Perubahan nyata dari konsep model fast fashion ke green memerlukan kombinasi inovasi bahan, proses produksi, komitmen brand untuk transparansi, dukungan regulasi, dan perubahan sikap konsumen.
Jika seluruh elemen kombinasi tersebut dapat bergerak secara bersamaan, industri fashion akan berhasil beralih dari konsep model yang boros menjadi konsep model yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Fenomena green fashion ini bukan sekedar pilihan gaya, tetapi ia adalah respon masyarakat terhadap konsekuensi besar dari model fast fashion yang dapat membawa berbagai pengaruh buruk dalam kehidupan sehari-hari.
FANEZA/Linda
Editor : Imron Arlado