JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Hidup di era modern seringkali terasa seperti perlombaan tanpa henti. Anak muda dituntut untuk berprestasi, memiliki karir cemerlang di usia muda, menjaga kesehatan mental sekaligus tetap aktif di media sosial.
Tekanan ini membuat banyak orang merasa kehilangan ruang untuk sekedar bernapas dan menikmati momen sederhana.
Banyak orang menganggap meromantisasi hidup hanyalah soal membuat foto atau video estetik untuk diunggah ke media sosial.
Meromantisasi hidup bukan berarti memberi makna dan kehangatan pada rutinitas kecil sehari-hari. Saat kita menambahkan sentuhan personal pada aktivitas biasa, hal itu dapat berubah menjadi sumber kebahagiaan.
Contohnya, minum kopi bukan sekadar untuk menghilangkan kantuk, melainkan sebuah ritual kecil yang menenangkan.
Berjalan kaki bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi juga kesempatan menikmati suasana sekitar. Bahkan menulis di jurnal sederhana bisa menjadi cara untuk berdialog dengan diri sendiri.
Tekanan sosial membuat banyak anak muda merasa hidup harus diukur dengan pencapaian besar.
Lulus cepat, punya pekerjaan bergengsi, travelling ke luar negeri, atau membeli barang mewah seolah jadi standar ''bahagia''. Padahal, tidak semua orang bisa atau ingin hidup dengan cara itu.
Meromantisasi hidup hadir sebagai bentuk perlawanan kecil terhadap budaya hustle yang melelahkan. Dengan cara ini, anak muda belajar bahwa:
- Kebahagiaan tidak harus mahal. Senja yang indah, musik favorit, atau secangkir teh hangat bisa jadi sumber rasa syukur.
- Hidup bukan hanya tentang target. Menikmati proses justru memberi rasa tenang dan makna lebih besar.
- Self-love itu penting. Meromantisasi diri sendiri berarti memberi penghargaan pada tubuh, pikiran, dan jiwa yang sudah berjuang setiap hari.
Meromantisasi hidup bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, tanpa perlu biaya besar. Beberapa cara sederhana yang sering dilakukan anak muda antara lain:
- Morning ritual estetik. Membuka jendela, menyeduh kopi atau teh, lalu menulis tiga hal yang disyukuri hari itu.
- Menikmati perjalanan. Mendengarkan playlist khusus saat naik transportasi umum agar perjalanan terasa seperti adegan film.
- Membuat sudut nyaman. Menghias meja belajar dengan tanaman kecil, lampu temaram, atau lilin aromaterapi.
- Mengabadikan momen. Bukan untuk pamer, tetapi sebagai cara mengingat hari-hari sederhana yang berharga.
- Me-time berkualitas. Membaca buku di kafe favorit, berjalan di taman, atau sekadar menonton film sendirian dengan cemilan favorit.
Setiap detail kecil yang kita beri sentuhan personal bisa membuat rutinitas terasa lebih berarti. Meromantisasi hidup tidak hanya membuat momen terasa indah, tetapi juga berdampak besar pada kesehatan mental.
Dengan cara ini, kita dapat belajar untuk lebih mindful, hadir penuh pada momen, dan tidak mudah terjebak pada rasa cemas.
Selain itu, kebiasaan ini membantu mengurangi perasaan kosong yang sering muncul ketika hidup hanya dipenuhi rutinitas tanpa makna. Meromantisasi hidup seakan mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa diciptakan, bukan hanya ditunggu.
Banyak anak muda menggambarkan meromantisasi hidup seperti menjadikan diri sendiri tokoh utama dalam film.
Kita yang menulis naskah, kita yang menentukan alur cerita, dan kita pula yang menikmati setiap adegan bahagia maupun sedih. Dengan cara ini, hidup terasa lebih personal, lebih intim, dan lebih menyenangkan untuk dijalani.
Pada akhirnya, meromantisasi hidup bukan soal mengikuti tren, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk memandang kehidupan.
Dengan memberi ruang pada hal-hal sederhana, kita dapat menemukan kembali arti kebahagiaan yang sering terlupakan. Anak muda belajar bahwa hidup tidak harus sempurna untuk untuk terasa indah.
Meromantisasi hidup mengajarkan kita untuk bersyukur, menikmati, dan mencintai diri sendiri lebih dalam.
Karena pada akhirnya, setiap orang berhak menulis kisahnya sendiri dengan cara yang paling romantis meski hanya lewat secangkir kopi, langit senja, atau lagu favorit yang diputar berulang kali.
NIYA/FADYA
Editor : Imron Arlado