Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengupas Sisi Lain Toxic Positivity, Mengapa Kita Tak Selalu Harus Baik-Baik Saja

Imron Arlado • Jumat, 5 September 2025 | 03:43 WIB
Mengenal sisi lain dari toxic positivity
Mengenal sisi lain dari toxic positivity

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di tengah isu kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental, istilah toxic positivity ramai dibicarakan.

Toxic Positivity merujuk pada kondisi seseorang ketika ia menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif, tanpa memberi ruang bagi emosi negatif yang sebenarnya sangat wajar untuk dirasakan.

Seseorang yang sudah terjebak dalam fenomena ini akan terus berusaha menghindari emosi negatif, seperti sedih, marah, atau bahkan kecewa, dari sesuatu hal yang terjadi.

 Penyangkalan emosi negatif yang kerap kali dilakukan dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental, seperti stress yang berlebihan, cemas, atau sedih yang berkepanjangan. Seseorang juga dapat mengalami gangguan tidur, penyalahgunaan obat terlarang, depresi, dan PTSD. 

Fenomena ini banyak berseliweran lewat unggahan warganet, khususnya di Instagram dan X.

Contohnya, beberapa pengguna X menyoroti kalimat seperti “Jangan sedih, masih banyak yang lebih susah daripada kamu”, atau “Ayo semangat, semua pasti baik-baik saja”.

Sekilas memang terdengar seperti kalimat positif dan penyemangat, namun jika terus dipaksakan tanpa mengetahui bagaimana hal sebenarnya yang terjadi pada seseorang, justru membuat seseorang merasa tidak punya ruang untuk mengakui emosi negatifnya.

Bukan hanya di X, diskusi mengenai toxic positivity ini juga di diskusikan di platform Instagram dalam bentuk infografis atau reels.

Konten-konten ini menyoroti bagaimana seseorang harus terlihat “selalu kuat” dan dapat membungkam perasaan sedih, marah, atau bahkan kecewa.

Toxic Positivity biasanya muncul melalui ucapan. Orang yang memiliki pemikiran yang demikian mungkin lebih sering melontarkan nasehat yang terkesan positif, tetapi sebenarnya sedang merasakan emosi yang negatif.

 

Editor : Imron Arlado
#kecewa #toxic positivity #kesehatan mental #ciri ciri #emosi negatif