JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Setiap orang tentu memiliki cara masing-masing untuk menikmati waktu liburan. Ada yang lebih suka bepergian jauh, menjelajahi tempat baru, dan mengumpulkan pengalaman, sementara ada juga yang merasa cukup dengan beristirahat di hotel atau villa dalam kota.
Dua pilihan yang kini sama-sama populer adalah staycation dan vacation. Keduanya sering dijadikan solusi untuk melepas penat, mengisi waktu luang, sekaligus menjaga kesehatan mental. Namun, pertanyaannya: mana yang sebenarnya lebih worth it untuk dijalani?
Staycation bisa dibilang sebagai konsep liburan modern yang praktis dan sederhana. Istilah ini lahir dari kombinasi kata stay (tetap tinggal) dan vacation (liburan), yang artinya liburan tanpa harus bepergian jauh.
Bentuk staycation biasanya berupa menginap di hotel, vila, atau resort dalam kota, bahkan sekadar di rumah sendiri sambil menikmati aktivitas santai seperti menonton film, membaca buku, atau memasak bersama keluarga. Fokusnya bukan pada destinasi, melainkan pada istirahat, kenyamanan, dan recharge energi.
Sebaliknya, vacation lebih identik dengan liburan konvensional yang melibatkan perjalanan keluar kota, antar pulau, bahkan ke luar negeri. Vacation menekankan pada eksplorasi tempat baru, menikmati suasana berbeda, serta mencari pengalaman yang berkesan.
Biasanya, vacation membutuhkan persiapan lebih matang, mulai dari tiket transportasi, akomodasi, itinerary, hingga anggaran yang relatif lebih besar.
Staycation memiliki banyak keunggulan yang membuatnya semakin diminati, terutama di era modern. Pertama, hemat waktu dan tenaga. Karena tidak perlu melakukan perjalanan jauh, staycation bisa langsung dijalankan secara praktis.
Cukup dengan booking hotel, bawa barang secukupnya, dan nikmati fasilitas seperti kolam renang, spa, atau breakfast buffet. Kedua, lebih ramah di kantong. Tidak perlu mengeluarkan biaya tiket pesawat atau transportasi jarak jauh, sehingga budget bisa dialihkan untuk pengalaman yang lebih personal, misalnya kamar dengan fasilitas premium.
Namun, kelemahan staycation adalah pengalaman yang didapat mungkin terasa terbatas. Aktivitasnya biasanya hanya berkisar pada bersantai, menikmati fasilitas, atau berkeliling area sekitar. Untuk orang yang mudah bosan atau ingin pengalaman baru, staycation bisa terasa kurang menantang.
Vacation menawarkan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh staycation, yaitu pengalaman baru. Dengan vacation, seseorang bisa menjelajahi budaya lokal, mencoba makanan khas daerah, melihat pemandangan yang berbeda, hingga mendapatkan cerita yang tidak terlupakan.
Liburan semacam ini cocok bagi mereka yang ingin memperluas wawasan, mencari inspirasi, atau sekadar merasakan suasana baru yang jauh dari rutinitas.
Namun, vacation juga memiliki tantangan. Pertama, membutuhkan waktu lebih panjang. Liburan ke luar kota atau luar negeri biasanya tidak bisa dilakukan hanya dalam 1–2 hari. Kedua, biaya lebih besar.
Mulai dari transportasi, akomodasi, hingga kebutuhan sehari-hari selama liburan bisa menguras dompet. Ketiga, vacation berpotensi menimbulkan rasa lelah akibat perjalanan panjang, sehingga justru butuh waktu tambahan untuk memulihkan energi setelah pulang.
Lalu, mana yang lebih worth it? Jawabannya kembali pada kondisi masing-masing orang. Jika tujuan utama liburan adalah healing cepat, istirahat singkat, dan melepas stres tanpa ribet, maka staycation adalah pilihan paling tepat.
Terutama bagi pekerja yang sibuk atau orang yang tidak punya banyak waktu libur. Namun, jika yang dicari adalah pengalaman baru, menambah cerita hidup, serta kesempatan untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda, vacation jelas lebih memuaskan.
Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan adalah:
- Anggaran: Staycation lebih ramah di kantong, sementara vacation butuh perencanaan biaya lebih besar.
- Waktu luang: Staycation bisa dilakukan hanya dengan satu malam, sedangkan vacation idealnya butuh beberapa hari.
- Tujuan pribadi: Apakah ingin benar-benar beristirahat, atau ingin mengeksplorasi hal baru?
- Kondisi fisik: Vacation bisa melelahkan karena perjalanan panjang, sedangkan staycation lebih ringan.
Menariknya, tren staycation meningkat tajam beberapa tahun terakhir, terutama sejak pandemi yang membatasi mobilitas masyarakat. Banyak orang yang kemudian menemukan bahwa liburan tidak harus selalu jauh-jauh ke luar kota atau luar negeri.
Menginap di hotel dalam kota, mencoba fasilitas unik, atau sekadar menikmati suasana baru sudah cukup menyegarkan pikiran.
Di sisi lain, vacation tetap tidak tergantikan. Keinginan untuk traveling, mengenal budaya lain, hingga menjelajahi tempat-tempat baru akan selalu menjadi daya tarik tersendiri.
Bahkan, sebagian orang melihat vacation bukan hanya sebagai liburan, melainkan juga sebagai investasi pengalaman yang memperkaya hidup mereka.
Baik staycation maupun vacation, keduanya memiliki nilai masing-masing yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, waktu, dan kemampuan finansial seseorang.
Staycation menawarkan kenyamanan dan kepraktisan untuk melepas penat dalam waktu singkat, sementara vacation menghadirkan pengalaman baru yang bisa memperluas pandangan hidup.
Pada akhirnya, liburan yang paling worth it adalah liburan yang benar-benar mampu membuat kita kembali segar, bahagia, dan siap menghadapi rutinitas dengan energi baru.
Jadi, entah kita memilih berdiam diri di hotel mewah dalam kota atau menjelajahi destinasi jauh di luar negeri, pastikan liburan kita adalah momen yang bermakna, bukan sekadar mengikuti tren. NIYA
Editor : Imron Arlado