JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Istilah manchild akhir-akhir ini mulai banyak muncul di internet, terutama di kalangan hubungan gen-z.
Mungkin istilah ini terdengar seperti candaan atau hanya sekedar istilah gaul di internet. Sebenarnya, manchild sendiri mencerminkan fenomena sosial yang cukup serius.
Topik ini mulai banyak dibahas dalam konteks kesehatan mental dan dinamika hubungan, karena memiliki dampak yang cukup besar, baik dari sisi si manchild sendiri maupun orang-orang disekitarnya.
Manchild sendiri merujuk pada pria dewasa tetapi belum matang secara emosional, dikutip dari Verywell Mind, How to Deal When Your Partner Is a Man Child.
Walaupun mungkin usianya sudah dewasa dan mungkin sudah terlihat “matang”, punya pekerjaan, pacar, atau bahkan sudah berkeluarga. Tetapi cara berfikir dan bersikapnya masih seperti anak anak.
Baca Juga: Mengapa Digital Detox Penting Bagi Kesehatan Mental dan Fisik Kita? Simak Penjelasanya
Istilah manchild sendiri muncul pertama kali pada abad ke-14, yang artinya adalah anak laki-laki.
Seiring berkembangnya zaman, yakni sekitar tahun 1700-an, istilah ini berkembang seperti saat ini yang memiliki arti laki-laki yang sifatnya kekanakan.
Dikutip dari Verywell Mind, Manchild juga sering disebut sebagai sindrom Peter Pan atau Peter Pan syndrome yang dipopulerkan oleh psikolog Dan Kiley tahun 1980-an.
Istilah ini tercetus karena merujuk pada tokoh Peter Pan yang digambarkan sebagai anak laki-laki yang tidak pernah tumbuh dewasa.
Baca Juga: Dilaunching Gus Bupati, Angkutan Mojokerto - Trawas Resmi Mengaspal dengan Tarif Diskon 50 Persen
Berikut Beberapa Ciri-Ciri Manchild yang Harus Kamu Ketahui, yang dikutip dari Verywell Mind:
- Sangat Anti dengan Tanggung Jawab
Ciri-ciri ini salah satu red flag yang paling jelas, seringkali mengalihkan kesalahan kepada orang lain atau mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Contohnya ia tidak bertanggung jawab atas barang barangnya dan membuat ulah, tetapi malah mencari alasan untuk menyalahkan orang lain.
Baca Juga: Peran Lifelong Learning Dalam Membentuk SDM Unggul di Era Digital
- Egois
Egois, tidak memikirkan orang lain dan ingin menang sendiri juga termasuk ciri-ciri bahwa dia adalah seseorang manchild. Mereka juga kerap tidak mau menerima kritik atas kesalahan yang ia lakukan.
Padahal, sudah seharusnya pria yang dewasa secara emosional bisa menerima kritik dan memperbaiki kesalahannya.
- Tidak Bisa Mengambil Keputusan
Untuk menjadi seorang pria dewasa, kita juga harus perlu mengenali diri sendiri dan menerima diri kita.
Seorang pria sejati juga sudah seharusnya bisa bertanggung jawab kepada dirinya sendiri sebelum memulai hubungan, baik secara finansial maupun non-finansial.
Sifat seseorang yang dewasa juga terlihat dari cara dia menerima segala konsekuensi tanpa menyalahkan orang lain.
- Tidak Mengerti Dirinya Sendiri
Konteks disini seperti cenderung moody, dan memiliki emosional yang belum stabil. Terkadang ia sangat dewasa, baik dan membuat nyaman jika bersamanya.
Tetapi bisa juga berubah menjadi bad mood, emosia, suka ngambek, karena dia tidak tahu bagaimana cara mempertahankan kondisi emosional yang stabil.
- Menghindari Percakapan Serius
Biasanya sering terjadi di dalam konteks hubungan, setiap kali mencoba membicarakan masalah yang lebih dalam, seorang manchild malah bercanda, mengalihkan topik dan berusaha menghindari percakapan tersebut.
NINA/Devi
Editor : Imron Arlado