Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Nikah Bukan Prioritas? Gen Z Pilih Self-Love dan Stabilitas Finansial

Imron Arlado • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 01:14 WIB

Nikah Bukan Prioritas? Gen Z Pilih Self-Love dan Stabilitas Finansial
Nikah Bukan Prioritas? Gen Z Pilih Self-Love dan Stabilitas Finansial

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Dalam beberapa tahun terakhir, angka pernikahan di Indonesia terus mengalami penurunan yang cukup signifikan. Tren ini terlihat jelas pada data Kementerian Agama, yang mencatat bahwa pada tahun 2023 hanya ada 1.557.225 pernikahan yang disahkan di seluruh Indonesia. 

Angka ini merupakan yang terendah dalam beberapa tahun terakhir, turun sekitar 128.000 pernikahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Fenomena tersebut memicu diskusi luas, terutama karena sebagian besar penurunan ini dikaitkan dengan sikap Generasi Z yang mulai memandang pernikahan sebagai sesuatu yang bersifat opsional, bukan lagi kewajiban sosial.

Selain memilih untuk tidak menikah, banyak juga dari Generasi Z yang memutuskan untuk childfree atau tidak memiliki anak, hal ini pun menjadi perdebatan. Lalu apakah sebenarnya alasan dari para Generasi Z memilih gaya hidup tersebut?

 

Baca Juga: Gen Z Lebih Minati Beli Pakaian Thrifting Dibanding Membeli Baru, Begini Alasannya?

 

Salah satu alasan utama yang mendorong perubahan sikap ini adalah pergeseran skala prioritas hidup. Generasi Z tumbuh di era yang serba cepat, penuh tekanan, dan kompetitif. 

Mereka akrab dengan istilah self-love dan work-life balance, yang sering kali membuat mereka ingin memastikan kestabilan emosional, mental, dan finansial sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Sehingga bagi kebanyakan Generasi Z, pernikahan kini dianggap sebagai pilihan opsional, bukan sebuah keharusan. Meski menuai kritik dari sebagian kalangan yang menganggap keputusan ini dapat mengancam keberlangsungan struktur keluarga, Generasi Z sendiri cenderung tidak ambil pusing. 

 

Baca Juga: OOTD ala Gen Z Tren yang Menguasai TikTok dan Instagram

 

Mereka menegaskan bahwa keputusan menikah atau tidak adalah hak pribadi yang tidak boleh dipaksakan. Seksolog Dr. Boyke Dian Nugraha mengungkapkan bahwa pola pikir Gen Z yang lebih bebas dan pragmatis turut memengaruhi sikap mereka terhadap hubungan jangka panjang. 

Tekanan ekonomi menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Harga rumah yang terus melambung, biaya hidup yang tinggi, serta ketidakpastian pekerjaan membuat banyak anak muda merasa belum siap memikul tanggung jawab rumah tangga. 

Ditambah lagi, pengalaman melihat rumah tangga orang tua atau kerabat yang penuh konflik membuat sebagian Gen Z berpikir dua kali sebelum berkomitmen.

 

Baca Juga: Sedang Hits di Kalangan Gen-Z! Mengenal Fenomena Performative Male di Sosial Media

 

“Anak Gen Z saat ini banyak yang tidak mau menikah, alasannya mereka masih sandwich generation (memenuhi kebutuhan orang tua, diri sendiri dan juga anak-anak) hingga kebiasaan mereka hidup lebih sulit,” ujar Dr. Boyke.

Kesulitan dalam mengelola keuangan juga merupakan salah satu faktor yang membuat sebagian besar merasa belum siap menikah. Mereka ingin mencapai kestabilan emosional dan tujuan pribadi sebelum memutuskan untuk berumah tangga.

Tri Yulia Setyoningrum





Editor : Imron Arlado
#Tren Hidup #child free #pernikahaan #indonesia #Gen Z