Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sedang Hits di Kalangan Gen-Z! Mengenal Fenomena Performative Male di Sosial Media

Imron Arlado • Selasa, 12 Agustus 2025 | 01:43 WIB

 

Performative Male, tren baru dikalangan Gen Z
Performative Male, tren baru dikalangan Gen Z

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Banyak orang yang membuat video atau konten mengenai “Performative male” di sosial media, terutama di TikTok dan Instagram. Istilah ini muncul dan mulai populer dikalangan anak muda, terutama Gen-Z.

Namun, apa arti sebenarnya dari Performative Male?

Performative male atau masculinity merupakan perilaku laki-laki yang berpura-pura maskulin demi memenuhi ekspektasi sosial. Atau lebih singkatnya, sikap berpura-pura lelaki dalam menyukai suatu hal demi menarik perhatian, biasanya adalah konteks perempuan.

Tergantung pada sudut pandang dan konteksnya, performative male bisa dianggap baik atau buruk. Jika dilakukan dengan niat yang baik untuk belajar dan berkontribusi pada kesetaraan gender, itu bisa menjadi hal yang positif. Namun jika dilakukan hanya untuk pencitraan, bisa merugikan gerakan feminis dan menciptakan citra yang tidak otentik.

 

Baca Juga: Makna Lagu Ciptaan Lana Del Rey yang Tersimpan Apik di Lirik

 

Seperti contohnya berpura-pura membaca buku buku yang filosofis atau sastra, tidak mau menangis agar dibilang kuat. Jika menyangkut konteks wanita, biasanya laki-laki berpura-pura menyukai hal sedang digemari atau sedang diikuti sang wanita.

Misalnya, ketika si wanita sedang menyukai seorang artis atau sedang mengikuti suatu drama korea, biasanya laki-laki berpura-pura mengerti agar si wanita merasa “Wah, dia punya kesamaan minat dengan aku.” Padahal, sebenarnya hal itu tidak benar-benar ia sukai atau dalami; semua hanya ia lakukan demi membangun citra yang sesuai harapan lawan bicaranya.

Lalu, mengapa tren ini bisa viral?

Karena banyaknya orang yang sedang membicarakan hal ini, tren ini sampai dibuat kontes, mulai dari Performative Male Contest di New York, sampai digelar di Jakarta pada 2 Agustus 2025 lalu. Tagar (hashtag #) #performativemale pun langsung meledak di sosial media. Mulai dari TikTok, Instagram, hingga X.

Netizen pun sangat beragam dalam menanggapi hal ini, karena mulai dari cara mereka berpakaian, filter yang dipakai, caption, sampai lagu-lagu yang mereka dengarkan pun semacam template performa sosial.

Selebritas seperti Timothée Chalamet dan Paul Mescal disebut-sebut sebagai representasi visual dari performative male, karena peran mereka sebagai laki-laki sensitive di film Little Women dan Normal People.

 

 

 Baca Juga: Mengapa Otak Manusia Cenderung Lebih Lama Memikirkan Hal Negatif Dibanding Hal Positif? Simak Penjelasannya!

 

Ini Beberapa Gaya dari Performative Male :

  1. Memakai outfit serba netral dan artsy, lebih suka memakai totebag dibandingkan mambawa backpack
  2. Membawa buku berat, biasanya tentang feminisme atau sastra agar terlihat intelek
  3. Selalu duduk di sudut café paling estetik, pesan matcha atau coffee latte serta memakai aksesori ala ‘aesthetic guy’ seperti headphone kabel, sepatu docmart, sampai phone case transparan berisi foto analog.
  4. Playlist musik indie galau, seperti Phoebe Bridgers, Clairo, atau Beabadoobee.

NINA

Editor : Imron Arlado
#tren #Gen Z #Performative Male #sosial media