Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Fenomena Lagu Kehilangan Makna Asli: Antara FOMO, Tren, dan Kurangnya Literasi Musik

Imron Arlado • Kamis, 7 Agustus 2025 | 21:30 WIB
Di era serba digital saat ini, segala hal dapat dengan mudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dan dikenal oleh banyak orang melalui medsos. Sumber foto: Google
Di era serba digital saat ini, segala hal dapat dengan mudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dan dikenal oleh banyak orang melalui medsos. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di era serba digital saat ini, segala hal dapat dengan mudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dan dikenal oleh banyak orang melalui media daring.

Salah satu hal yang saat ini mudah tersebar secara meluas hingga internasional adalah lagu.

Saat ini, lagu bukan sekedar suatu karya seni yang hanya dinikmati secara personal, tetapi juga digunakan sebagai latar suara di berbagai konten visual yang tersebar di media sosial.

Salah satu fenomena yang paling menonjol dari fungsi lagu sebagai latar suara konten visual adalah penyalahgunaan konteks lagu, FOMO, dan overuse.

FOMO yang memiliki kepanjangan Fear Of Missing Out dalam bahasa inggris yang berarti "takut ketinggalan" adalah fenomena di mana seseorang selalu merasa takut ketinggalan dan harus selalu mengikuti segala hal yang sedang viral agar tidak dianggap kurang update.

Dalam konteks musik, FOMO dapat mendorong seseorang untuk melakukan kebiasaan menggunakan lagu-lagu viral secara asal tanpa memperhatikan makna dibaliknya.

Hal ini juga mengakibatkan lagu-lagu yang viral mengalami overuse atau penggunaan berlebihan sehingga kehilangan nilai artistiknya. Kejadian ini juga dapat disebut sebagai penyalahgunaan konteks lagu.

Kondisi ketika lagu yang sebenarnya memiliki makna atau emosi tertentu digunakan dalam momentum yang tidak sesuai.

Hal ini kerap kali mengakibatkan tergesernya makna asli dari sebuah lagu hanya untuk kepentingan trend.

 

Baca Juga: Perkuat Peran BUMN dalam Merdeka Energi dan Pangan, PLN UP3 Mojokerto Sukses Dukung Keandalan Listrik dalam Kegiatan Penanaman Jagung Serentak Bersama

 

Misalnya, lagu yang secara lirik bercerita tentang trauma, rasa sakit, kekecewaan, dan kesedihan justru digunakan sebagai latar suara konten visual yang memperlihatkan suasana berbahagia, konyol, atau lucu.

Beberapa contoh kejadian ini adalah penggunaan lagu bertajuk back to friends milik salah satu penyanyi ternama asal New York, Amerika yang dikenal dengan nama panggung Sombr.

Secara lirik, lagu milik Sombr sebenarnya adalah lagu yang menceritakan tentang luka hati sepasang teman yang memiliki hubungan lebih dari teman biasa, semacam hubungan tanpa status yang jelas.

Akan tetapi, salah satu dari mereka ingin kembali menjadi teman biasa seperti sedia kala.

Sementara itu dalam penggalan liriknya yang berbunyi "how can we go back to being friends when we just shared a bed?" yang berarti, "bagaimana bisa kita kembali menjadi teman biasa setelah apa yang telah kita bagi dan lewati?"

Salah satu pihak lainnya seakan mempertanyakan satu pertanyaan memilukan untuk temannya yang meminta mereka kembali sebagai teman biasa seperti sedia kala.

Namun, tak sedikit orang di media sosial menyalahgunakan lagu ini dengan menggunakannya sebagai latar suara dari konten visual yang menampilkan suasana berbahagia bersama teman-temannya.

Tak hanya itu, beberapa pasangan sejoli pun kerap kali menyalahgunakan salah satu lagu milik The Walters yang bertajuk I Love You So.

Lagu I Love You So sendiri adalah sebuah lagu yang bercerita tentang konflik batin seseorang yang terjebak dalam hubungan percintaan yang seharusnya membahagiakan justru menjadi sumber munculnya luka.

Akan tetapi, cukup banyak pasangan sejoli menggunakan lagu ini sebagai latar suara konten visual mereka yang menampilkan suasana berbahagia dan lucu hanya karena terdapat kata "Love" dalam lagu tersebut.

Tak hanya lagu berbahasa asing, lagu dengan bahasa Indonesia pun seringkali disalahgunakan. Seperti lagu dengan judul Hati-Hati di Jalan milik penyanyi laki-laki ternama Indonesia yang bernama Tulus.

Lagu ini sebenarnya menceritakan tentang perpisahan dua orang yang pernah saling mencintai, namun harus berpisah karena sudah tak sejalan.

Tetapi banyak dijadikan backsound atau latar suara untuk konten video pernikahan, kencan, bahkan perjalanan bahagia pasangan. Akibatnya, makna emosional yang sebenarnya dari lagu-lagu tersebut menjadi bias.

 

Baca Juga: Desa Kuripansari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto Jaga Kerukunan Warga melalui Sholawat Bersama

 

Para pendengar yang baru mendengarnya mungkin akan mengira bahwa lagu itu hanyalah lagu cinta dan bahagia seperti biasa.

Padahal, kenyataannya makna dari lagu-lagu itu sangat menyayat hati. Lama kelamaan lagu pun bisa kehilangan kedalaman emosionalnya dan hanya digunakan sebagai alat pendukung suasana saja.

Maka dari itu, bergerak mengikuti zaman juga harus dijalani dengan bijak. Melakukan riset terlebih dahulu sebelum menggunakan sebuah lagu sebagai latar suara konten juga sangat diperlukan.

Hal ini agar kita dapat menjaga identitas emosional sebuah lagu supaya makna yang berada dalam lagu tidak tenggelam oleh kepentingan viralitas dan hanya menjadi latar suara yang dipakai agar konten bisa "masuk FYP.”

FANEZA

 

Editor : Imron Arlado
#back to friends #penggunaan berlebihan #fomo #overuse #penyalahgunaan konteks lagu #i love you so #Hati-Hati di Jalan #Sombr #tulus #lagu #the walters #musik #fear of missing out