Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Produktivitas vs Overworking: Bagaimana Menyeimbangkannya? Baca Penjelasannya!

Imron Arlado • Kamis, 7 Agustus 2025 | 21:31 WIB
Di zaman modern yang serba cepat dan terkoneksi ini, istilah produktif telah menjadi semacam gelar kehormatan. Seseorang dianggap sukses jika sibuk, memiliki banyak kegiatan. sumber foto: pinterets
Di zaman modern yang serba cepat dan terkoneksi ini, istilah produktif telah menjadi semacam gelar kehormatan. Seseorang dianggap sukses jika sibuk, memiliki banyak kegiatan. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di zaman modern yang serba cepat dan terkoneksi ini, istilah produktif telah menjadi semacam gelar kehormatan. Seseorang dianggap sukses jika sibuk, memiliki banyak kegiatan.

Dan mengejar target dan mampu mengisi setiap jam dalam harinya dengan pekerjaan. Namun, di balik budaya ini, ada sisi gelap yang sering terabaikan seperti overworking, atau bekerja secara berlebihan tanpa jeda.

Produktivitas sejatinya adalah tentang bagaimana kita bekerja, bukan seberapa lama kita bekerja.

Namun, banyak orang secara tidak sadar menyamankan produktivitas dengan kerja keras tanpa henti.

Dalam jangka panjang,sikpa ini justru menjadi bumerang. Bekerja terlalu keras, tanpa istirahat dan keseimbangan yang sehat, bisa berujung pada burnout, stres kronis, penurunan kualitas hidup, dan bahkan gangguan kesehatan serius.

 

 

Memahami Makna Sejati dari Produktivitas

Seringkali kita terjebak dalam asumsi bahwa semakin banyak tugas yang diselesaikan semakin kita menjadi lebih produktif.

Padahal, produktivitas yang sejati bukan hanya tentang jumlah output, tetapi nilai dan efektivitas dari apa yang kita kerjakan.

Orang yang benar-benar produktif justru tahu kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti. mereka juga tahu bagaimana menghindari pekerjaan yang sia-sia, serta bagaimana berkata cukup.

 

 

Overworking: Ketika Ambisi Berubah Menjadi Beban

Overworking bukan hanya bekerja lembur, tetapi juga bekerja secara terus-menerus tanpa memperhatikan kebutuhan fisik dan emosional.

Biasanya, overworking diawali dari niat baik seperti, ingin mengejar target, membuktikan diri, atau memenuhi ekspektasi.

Namun dalam jangka panjang, pola ini juga bisa menimbulkan kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan, penurunan produktivitas karena tubuh tidak sempat memulihkan diri.

Dan masalah kesehatan seperti insomnia, gangguan pencernaan, migrain, atau tekanan darah tinggi, dan juga kehilangan motivasi dan kepuasaan terhadap pekerjaan.



Kenali Sinyal Tubuh dan Emosi

Menyeimbangkan produktivitas dan overworking dimulai dari mengenali sinyal yang dikirim oleh tubuh dan pikiran. Sering kali, tubuh sebenarnya sudah memberikan tanda-tanda awal bahkan kita perlu berhenti atau mengurangi intensitas kerja.

 

Baca Juga: Desa Kuripansari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto Jaga Kerukunan Warga melalui Sholawat Bersama

 

Beberapa sinyal penting yang perlu diperhatikan:

 

 

 

Bangun Batasan yang Tegas Antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Salah satu penyebab utama overworking adalah kaburnya batasan antara kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi.

Hal ini makin parah sejak munculnya sistem kerja remote,di mana rumah dan kantor menjadi satu tempat.

Beberapa langkah konkret untuk menjaga batasan:

 

 

Strategi Menyeimbangkan Produktivitas dan Kesehatan

 

Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan untuk menjaga keseimba ngan antara produktivitas dan overworking:

 

Baca Juga: Dewan Kota Mojokerto Desak Pemkot Realisasikan Gaji PPPK

 

 

Budaya Kerja dan Tekanan Sosial

Dalam banyak lingkungan kerja, overworking seringkali dianggap sebagai dedikasi. Namun, budaya ini perlu dikritik.

Pekerjaan yang terus memaksakan diri akan lebih rentan mengalami burnout, sedangkan mereka yang menjaga keseimbangan justru bisa lebih tahan lama dan stabil dalam kontribusinya.

 

 

Produktivitas dan kerja keras tentu saja penting, tapi tidak boleh mengorbankan kesehatan dan kebahagiaan.

Menjadi produktivitas bukan berarti harus bekerja tanpa henti, melainkan mampu bekerja secara cerdas, teratur, dan dengan batasan yang sehat. AILEEN 



Editor : Imron Arlado
#kesehatan #burnout #overworking #produktifitas #Tekanan sosial #pekerjaan #fisik #Emosional #stres kronis #budaya kerja