Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Slow Living, Gaya Hidup Pelan yang Justru Menyembuhkan

Imron Arlado • Minggu, 3 Agustus 2025 | 22:31 WIB
Slow living, bukan berarti malas atau tidak produktif. Sumber Foto: Pinterest
Slow living, bukan berarti malas atau tidak produktif. Sumber Foto: Pinterest

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh dengan tuntutan, muncul sebuah gerakan yang justru mengajak kita untuk melambat. Slow living, bukan berarti malas atau tidak produktif. Tetapi lebih memilih untuk hadir secara sadar dalam setiap momen serta percaya bahwa hidup tidak harus selalu terburu-buru.

Slow living adalah gaya hidup yang menekankan kesadaran penuh dalam menjalani hari, menikmati proses alih-alih fokus hanya pada hasil, dan memberi ruang untuk istirahat tanpa rasa bersalah.

Slow living bisa dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari, seperti tidak membuka ponsel saat makan, menyeduh teh dengan tenang, atau sekadar menyisihkan waktu sedikit di pagi hari tanpa distraksi.

Di zaman yang serba cepat ini, banyak dari kita merasa terjebak dalam rutinitas yang melelahkan. Bekerja tanpa henti, sibuk membandingkan diri sendiri di media sosial, hingga lupa rasanya membutuhkan untuk istirahat.

Sebaliknya, slow living merupakan lawan dari gaya hidup hustle culture yang membuat orang-orang bekerja melebihi batas waktu dan tanpa berhenti untuk mencapai kesuksesan yang ingin dituju.

 

 

Slow living hadir sebagai “rem tangan” dari kehidupan yang terlalu ngebut. Slow living memberikan kita kesempatan untuk bernapas, dan menyadari kembali apa yang penting, serta menyembuhkan luka yang tidak terlihat.

Cara memulai slow living:

Slow living tidak perlu dilakukan secara terburu-buru, dapat dimulai dari hal-hal kecil sebagai berikut:

  1. Menghindari multitasking

Selalu fokus pada satu tugas hingga selesai sebelum beralih pada tugas yang lain.

  1. Meluangkan waktu untuk diri sendiri

Menyediakan waktu untuk membaca, berkebun, atau melakukan hobi untuk mengurangi rasa stress.

  1. Membatasi dalam penggunaan media sosial

Media sosial membuat kita merasa terburu-buru, coba dengan mengurangi penggunaan media sosial dan menikmati waktu tanpa gangguan dari dunia maya.

  1. Menerapkan praktik mindfulness

Mindfulness adalah praktik meningkatkan kesadaran diri dan konsentrasi pada momen tanpa mengkhawatirkan masa depan.

  1. Mengubah kebiasan-kebiasan kecil

Mulai dengan mengubah kebiasaan kecil sehari-hari. Seperti makan dengan perlahan dan nikmati tiap suapan makanan tanpa membuka gadget.

 

Manfaat slow living:

  1. Gaya hidup slow living membuat nilai yang dimiliki setiap orang tidak hanya diukur dari keberhasilan karir. Sebaliknya, kehidupan pribadi akan menjadi prioritas. Kondisi ini baik untuk kesehatan karena kesibukan yang membuat tubuh lelah dan mudah merasa cemas.
  2. Slow living juga membuat kita yang melakukannya mempunyai banyak waktu luang untuk diri sendiri, keluarga, teman, serta memprioritaskan hubungan yang bermakna lebih dalam di antara rekan kerja.
  3. Bagi lingkungan, slow living membuat orang-orang memiliki waktu luang untuk menghabiskan waktu di alam. Kita jadi memiliki waktu lebih untuk memperhatikan dan menjaga kondisi ekosistem.

 

 

Slow living bukan tentang memperlambat hidup, tetapi soal memberi ruang untuk bernapas dan benar-benar hidup. Saat dunia menuntut kita untuk terus berlari, slow living justru mengajarkan, kadang yang kamu butuhkan bukan berlari lebih cepat, tapi berhenti sejenak dan melihat sekeliling. NIYA

 

Editor : Imron Arlado
#cara memulai #Slow Living #Lifestyle #gaya hidup #manfaat slow living #memberi ruang