Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sering Minta Maaf Tanpa Sebab? Kenali Definisi Sorry Syndrome dan Cara Mengatasinya

Imron Arlado • Jumat, 1 Agustus 2025 | 02:08 WIB
Sering Minta Maaf Tanpa Sebab? Kenali Definisi Sorry Syndrome dan Cara Mengatasinya
Sering Minta Maaf Tanpa Sebab? Kenali Definisi Sorry Syndrome dan Cara Mengatasinya

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Mengucapkan kata ''maaf'' biasanya mencerminkan sikap rendah hati dan empati. Namun, bagaimana jika kata tersebut justru keluar terlalu sering bahkan saat kita sebenarnya tidak melakukan kesalahan?

Fenomena ini dikenal dengan istilah sorry syndrome, sebuah kecenderungan meminta maaf secara berlebihan yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental dan harga diri seseorang.

Definisi Sorry Syndrome

Istilah ini tidak termasuk dalam istilah medis formal, tapi telah banyak digunakan dalam diskursus psikologi populer untuk menggambarkan perilaku meminta maaf secara berulang-ulang.

Seseorang yang mengalami sindrom ini cenderung mengucap ''maaf'' bahkan dalam situasi di mana permintaan maaf tidak diperlukan. Mereka kerap merasa bersalah secara otomatis dalam konflik atau kesalahpahaman.

Bahkan, mereka selalu berusaha keras untuk memberikan kenyamanan bagi orang lain meski harus mengorbankan diri sendiri.

 

 

Fenomena ini paling sering ditemukan pada perempuan, orang dengan pengalaman trauma interpersonal, dan mereka yang dibesarkan dalam lingkungan perfeksionis atau penuh tuntutan sosial.

Kebiasaan meminta maaf tanpa alasan yang jelas bisa menjadi tanda akan adanya rasa tidak aman secara psikologis dan pola asuh yang mengajarkan bahwa eksistensi diri hanya valid jika diterima orang lain.

Hal ini berkaitan erat dengan low self-esteem dan people-pleasing behavior. Bagi penderita, sorry syndrome sering kali menjadi hal yang tidak disadari.

Mereka merasa bahwa meminta maaf artinya sedang bersikap sopan, padahal itu bentuk kegelisahan karena takut menyinggung atau dianggap tidak cukup baik oleh orang lain.

 

Dampak Sorry Syndrome yang Perlu Diwaspadai

  1. Menurunkan self-worth. Terlalu sering meminta maaf bisa membuat seseorang merasa inferior dan selalu di titik terbawah dalam relasi sosial.
  2. Membentuk relasi yang tidak seimbang. Teman atau rekan kerja bisa memanfaatkan rasa bersalah yang terus-menerus ini untuk menghindari tanggung jawab.
  3. Dapat menyabotase komunikasi. Ucapan maaf yang berlebihan bisa mengaburkan pesan yang ingin kita sampaikan dan membuat pendapat yang kita ujarkan menjadi terdengar tidak tegas.
  4. Berisiko mengalami emotional labor berlebih. Karena ingin terus menyenangkan orang lain, kita menjadi banyak menanggung beban emosi yang tidak semestinya.

 

 

Cara Mengatasi Sorry Syndrome

  1. Ubah kata ''maaf'' menjadi ''terima kasih''. Daripada berkata ''Maaf jadi banyak bertanya,'' lebih baik katakan ''Terima kasih sudah menjawab pertanyaannya.''
  2. Sadari alasan di balik permintaan maaf. Apakah kita memohon maaf karena benar-benar salah atau hanya takut dianggap mengganggu dan tidak cukup baik.
  3. Latih komunikasi asertif. Yaitu kemampuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur dan jelas tanpa rasa bersalah berlebih.
  4. Tingkatkan kepercayaan diri secara bertahap. Pahami nilai diri di luar validasi orang lain. Reaksi orang akan diri kita bukanlah tanggung jawab yang harus kita pikirkan hingga berlarut-larut.

Meminta maaf mungkin terlihat sopan, tapi jika terlalu sering dan tidak dikendalikan dapat membuat kita kehilangan harga diri. Mulailah menghargai batas serta kesadaran diri. FADYA.

Editor : Imron Arlado
#sering minta maaf #Low Self Esteem #minta maaf #people pleasing #psikologis #sorry syndrome