Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Krisis Identitas: Lunturnya Budaya Lokal di Era Serba Digital

Imron Arlado • Jumat, 1 Agustus 2025 | 22:14 WIB
Di era digital seperti saat ini, anak muda menjadi kelompok paling rentan terhadap arus globalisasi budaya karena mereka yang paling aktif dalam dunia media sosial. Sumber foto: Google
Di era digital seperti saat ini, anak muda menjadi kelompok paling rentan terhadap arus globalisasi budaya karena mereka yang paling aktif dalam dunia media sosial. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di era digital seperti saat ini, anak muda menjadi kelompok paling rentan terhadap arus globalisasi budaya karena mereka yang paling aktif dalam dunia media sosial.

Mereka merasa dilema antara harus melestarikan warisan budaya lokal atau harus mengikuti arus budaya global yang terus menerus merambat masuk dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sudah dipastikan dapat mengakibatkan terjadinya krisis identitas budaya karena para anak muda mengalami penolakan dan kebingungan terhadap budaya asalnya karena sudah terpapar oleh budaya asing yang dianggap lebih cocok dengan gaya hidup anak muda dan lebih gaul.

Contohnya seperti para remaja yang lebih fasih menyanyikan lagu dari luar negara daripada lagu daerahnya sendiri, lalu lebih bangga dan lebih menyukai pola busana ala barat daripada gaya busana lokal dari daerahnya atau baju adat.

Padahal, peran anak muda dalam melestarikan identitas budaya lokal sangat dibutuhkan, terutama di era digital saat ini yang telah terpapar budaya luar secara terus-menerus.

Karena identitas budaya adalah cara individu atau kelompok memahami dan mengekspresikan kebudayaannya, seperti bahasa daerah, pakaian, nilai-nilai, adat istiadat, hingga pandangan hidup.

Sementara media sosial yang selama ini perkembangannya dianggap membawa dampak yang sangat baik sekaligus memudahkan semua pengguna untuk mengakses seluruh informasi dan banyak hal lainnya, di sisi lain justru membawa dampak buruk yang cukup besar dalam kehidupan.

Media sosial, terutama platform TikTok, Instagram, Twitter atau X, dan YouTube dipercaya menjadi saluran utama penyebaran budaya asing yang semakin merambat dalam kehidupan sehari-hari.

Media Sosial juga dianggap sebagai jendela dunia oleh hampir seluruh orang di dunia ini terutama kelompok anak muda karena memudahkan mereka untuk mengakses tren, gaya, hingga nilai baru yang sedang populer dalam waktu yang singkat.

 

Baca Juga: Pemkab Mojokerto Ekspor Ribuan Pasang Sepatu ke Korsel

 

Platform media sosial dianggap sebagai pemicu utama terjadinya krisis identitas karena algoritmanya yang kerap kali memprioritaskan konten viral dari budaya global daripada budaya lokal.

Konten viral inilah yang kemudian membuat para anak muda tertarik dan mengikutinya, walaupun hal tersebut sama sekali tidak mencerminkan budaya lokal.

Contohnya seperti tren dance challenge di TikTok yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Para anak muda cenderung lebih mengenali trend dance tersebut daripada tarian tradisional dari daerahnya masing-masing.

Tak hanya itu, tren k-pop dan korean wave atau Hallyu juga memberikan dampak yang cukup besar dalam kehidupan sehari-hari tiap individu.

Tren k-pop memang membawa efek yang positif dalam kehidupan sebagai hiburan serta meningkatkan minat anak muda untuk mempelajari budaya negara lain serta menanamkan etos seperti disiplin dan kerja keras layaknya budaya di Korea Selatan.

Namun, dampak buruknya tak kalah besar dari dampak positifnya. Budaya lokal, seni atau fashion lokal seiring berjalannya waktu akan mengalami pergeseran dan tenggelam karena dianggap kurang gaul.

Hal ini juga dapat memicu munculnya tekanan untuk mengikuti standar kecantikan atau fashion idola k-pop yang terkadang tidak realistis dan dapat memicu terjadinya body image yang buruk.

Selain tren k-pop, westernisasi juga kerap kali terjadi di era digital ini. Westernisasi sendiri merupakan keadaan dimana budaya barat mulai memasuki kehidupan sehari-hari individu melalui media sosial.

Dampak positif yang dapat diambil dari kondisi ini adalah membuka wawasan, mengasah kreativitas, toleransi, kemampuan mempelajari dan menggunakan bahasa asing.

 

Baca Juga: Oknum PNS Pemkot yang Cabuli Siswi Dipecat

 

Tetapi, dampak negatifnya dapat melunturkan nilai kekeluargaan, munculnya sifat individualisme, dan gaya hidup konsumtif ala barat.

Kejadian ini dapat dicegah dengan adanya edukasi budaya lokal melalui media sosial dengan diedit menjadi video pendek yang kreatif dan tidak membosankan.

Lalu menjadikan budaya lokal sebagai tren yang tak kalah menarik dari tren global seperti batik streetwear, remix lagu daerah, dan kebaya yang dipadukan dengan bawahan jeans yang populer belakangan ini.

Di tengah derasnya alur globalisasi, yang harus kita lakukan bukanlah menolak masuknya budaya luar, tapi menyikapinya secara kritis dan seimbang agar para anak muda dapat terus mempelajari dan memperluas wawasan tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.

FANEZA

 

Editor : Imron Arlado
#Budaya Global #Krisis Identitas #positif #k-pop #media sosial #globalisasi #Negatif #Westernisasi #buruk #dampak #era digital