JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di era digital yang serba cepat, di mana update media sosial datang hampir setiap menit, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam dorongan untuk terus terhubung, terus hadir, dan terus ikut dalam segala hal.
Rasa gelisah ketika tidak mengetahui kabar terkini, tidak ikut nongkrong, atau bahkan tidak membagikan momen di media sosial dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out).
Namun, ada tren baru yang mulai berkembang diam-diam, terutama di kalangan anak muda urban, pekerja kreatif, dan Gen Z yang semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental. Tren ini bernama JOMO (Joy of Missing Out).
JOMO bukanlah rasa takut tertinggal, melainkan kebahagiaan yang muncul dari memilih untuk tidak ikut serta dalam keramaian. JOMO muncul sebagai respons terhadap kelelahan kolektif akibat tekanan sosial dan digital.
Orang-orang yang mengalami JOMO merasa lega dan puas saat memutuskan untuk tidak ikut serta dalam tren, acara, atau interaksi sosial tertentu demi menjaga ruang pribadi mereka.
JOMO adalah bentuk dari coping mechanism atau strategi adaptif dalam menghadapi overload sosial. Hal ini muncul sebagai sebuah kesadaran emosional bahwa tidak semua hal perlu diikut.
Tidak hadir dalam satu momen bukan berarti kita tertinggal kehidupan. Justru kita memilih kualitas di atas kuantitas.
Saat ini, masyarakat sudah mulai lelah dengan tuntutan eksis. Pasca pandemi, orang makin menghargai ketenangan, privasi, dan waktu sendiri. Mereka belajar bahwa recharge tidak selalu datang dari interaksi sosial, tapi juga dari momen hening.
Perbedaan FOMO dan JOMO Secara Psikologis
FOMO adalah rasa takut tertinggal dari tren, acara, atau informasi. Orang yang FOMO cenderung merasa gelisah jika tidak terlibat dalam aktivitas sosial, sering dipicu oleh media sosial yang menampilkan kehidupan orang lain seolah selalu seru dan menarik.
Sebaliknya, JOMO adalah rasa bahagia karena memilih untuk tidak ikut serta. Orang yang JOMO menikmati waktu sendiri, merasa damai tanpa harus mengikuti semua hal, dan tidak takut tertinggal. Mereka lebih fokus pada ketenangan dan hal yang penting bagi diri sendiri.
Singkatnya, FOMO adalah tekanan untuk terus hadir, sedangkan JOMO adalah kebebasan untuk memilih istirahat dan menikmati momen tanpa beban.
Tips Menerapkan JOMO
- Kenali batasan energi sosial diri sendiri. Tidak semua orang punya social battery yang sama. Kenali kapan tubuh memerlukan jeda untuk memulihkan tenaga.
- Kurangi scrolling tanpa tujuan. Gunakan media sosial secara sadar, bukan sebagai pelarian.
- Ciptakan momen pribadi yang bermakna. Bisa dengan journaling, membaca buku, atau sekadar menikmati teh tanpa distraksi.
- Berani untuk menolak. Belajar berkata ''tidak'' terhadap ajakan tanpa rasa bersalah adalah bagian dari self-respect.
- Evaluasi diri. Apakah hal yang kita lakukan dapat membawa kebahagiaan atau hanya karena takut tertinggal.
JOMO bukan tentang menjauh dari dunia sosial, tapi tentang memilih keterlibatan yang lebih sadar, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan pribadi. Hal ini bisa mengajarkan kita untuk berani absen demi hadir sepenuhnya untuk diri sendiri. FADYA.
Editor : Imron Arlado