JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kondisi ketika laki-laki dan perempuan memiliki hak, tanggung jawab, kesempatan, dan diperlakukan secara sama rata di segala aspek kehidupan adalah definisi dari istilah Kesetaraan Gender.
Belakangan ini, istilah kesetaraan gender ramai diperbincangkan oleh hampir seluruh masyarakat. Hal ini karena maraknya kasus ketimpangan gender yang masih terjadi.
Akar dari munculnya diskriminasi atau ketimpangan berdasarkan gender adalah terjadinya budaya patriarki yang dinormalisasi.
Sistem budaya patriarki menempatkan laki-laki pada posisi pertama sebagai pemegang kekuasaan utama dalam masyarakat maupun keluarga.
Munculnya stereotip gender seperti "perempuan lebih lemah dari laki-laki" dan "laki-laki harus tangguh, tidak boleh cengeng, dan tidak boleh terlihat lemah" di kehidupan bermasyarakat juga menjadi salah satu akar masalah terjadinya ketimpangan gender.
Serta representasi media yang seringkali menggambarkan laki-laki sebagai pemimpin dan perempuan hanya sebagai objek pelengkap laki-laki juga memberi pengaruh besar terhadap munculnya diskriminasi gender.
Akibatnya banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa ketimpangan gender adalah sebuah "kodrat" yang wajib dinormalisasi. Padahal, hal itu sebenarnya dibentuk oleh budaya dan sosial.
Contoh dari kasus ini adalah perempuan seringkali tidak mendapatkan posisi pemimpin di perusahaan atau politik dan laki-laki dipaksa untuk memendam emosinya karena standar sikap yang ditetapkan masyarakat.
Tak hanya itu, pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak juga masih dianggap sebagai tugas ibu. Sedangkan tugas ayah hanya mencari dan memberi nafkah tanpa membantu pekerjaan rumah serta pengasuhan anak.
Selain semua itu, masih banyak ketimpangan gender yang terjadi pada dunia kerja, pendidikan, kesehatan, dan norma sosial. Berikut contoh-contohnya:
Baca Juga: Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar Cari Bibit Atlet dan Sambut HUT Ke-80 Kemerdekaan RI lewat Pordes
- Di Dunia Kerja
Dalam dunia kerja perempuan seringkali mendapat upah yang lebih rendah dari laki-laki dan terjadinya double burden di mana perempuan yang bekerja di luar rumah dituntut untuk tetap menuntaskan pekerjaan rumah sendirian.
- Di Dalam Pendidikan
Contoh kali ini masih seringkali terjadi hingga saat ini, di mana seorang perempuan seringkali dinikahkan muda dan tidak melanjutkan sekolah dengan dalih “sekolah setinggi apapun, ujungnya tetap menjadi ibu rumah tangga”.
- Di Dunia Kesehatan
Riset medis lebih sering dilakukan pada laki-laki dan isu tentang menstruasi, kehamilan, serta kesehatan reproduksi masih dianggap tabu.
- Di Dalam Norma Sosial
Dalam norma sosial, laki-laki yang menunjukkan emosinya, memiliki sifat yang lembut, dan memilih pekerjaan yang ringan dianggap “tidak laki”. Sedangkan perempuan yang berani dan ambisius dilabeli “galak” dan “tidak feminim”.
Aksi di atas akhirnya menyulut emosi semua gender terutama kaum perempuan karena merasa terlalu dituntut dan ditindas.
Para perempuan akhirnya melancarkan aksi feminine rage atau perlawanan terhadap ketimpangan gender yang dinormalisasi.
Mereka melakukannya dengan berbagai cara seperti aksi unjuk rasa, speak up melalui media sosial, dan berbagai cara lainnya.
Para laki-laki pun melakukan hal yang sama seperti Masculine Awareness atau kondisi di mana laki-laki mulai sadar bahwa dirinya juga terjebak di dalam budaya patriarki, misalnya dilarang menangis dan harus selalu tangguh.
Laki-laki yang mulai menyadari patriarki biasanya membuka ruang rentan dan emosional seperti membicarakan kesehatan mental dan curhat terbuka di sosial media atau podcast. Mereka juga mengkritik toxic masculinity yang terjadi.
Baca Juga: Menggunakan Biji-bijian: Mengungkap Metode Unik Tes Kehamilan Masyarakat Mesir Kuno
Tak hanya itu, mereka juga menjadi sekutu perjuangan gender atau allyship. Laki-laki yang bergabung pada allyship biasanya mengikuti berbagai kampanye bersama perempuan.
Mereka melakukan hal itu bukan karena ingin menolong perempuan, tapi mereka ingin menolong diri dan kaumnya sendiri. Sama seperti para perempuan, mereka juga ingin terbebas dari budaya patriarki yang membelenggu.
Laki-laki dan perempuan berusaha keras untuk mendukung dan merealisasikan kesetaraan gender karena hal ini memiliki peran penting dalam banyak hal.
Baca Juga: Lomba Tari Kreasi Tradisi se-Mojokerto Raya: Nomor Urut Telah Diundi, Peserta Siap Tampil
Dua contoh pengaruh kesetaraan gender yang paling sering muncul yaitu:
- Hak Asasi Manusia
Di dunia ini semua manusia berhak memiliki hidup yang layak tanpa dibeda-bedakan. Mereka berhak untuk hidup dengan derajat yang sama dan melakukan segala hal dengan jumlah atau tingkat yang sejajar.
- Ekonomi Lebih Kuat
Negara yang mendukung kesetaraan gender terbukti memiliki ekonomi yang kuat karena para rakyatnya bekerja dengan nyaman, sejajar, dan tidak merasa dibeda-bedakan.
Sejatinya kejadian kesetaraan gender bukan hanya isu perempuan, tapi menyangkut seluruh pihak.
FANEZA
Editor : Imron Arlado