Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengurai Fenomena Men Centered: Ketika Dunia Berpusat pada Laki-laki

Imron Arlado • Jumat, 18 Juli 2025 | 02:48 WIB
Kondisi di mana laki-laki dan perspektif maskulinnya dianggap sebagai standar utama dalam setiap aspek kehidupan. Sumber foto: Google
Kondisi di mana laki-laki dan perspektif maskulinnya dianggap sebagai standar utama dalam setiap aspek kehidupan. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Kondisi di mana laki-laki dan perspektif maskulinnya dianggap sebagai standar utama dalam setiap aspek kehidupan dan sering kali menjadi pusat perhatian serta dominan pada umumnya disebut dengan fenomena men centered atau male centric.

Fenomena ini biasanya sangat erat kaitannya dengan budaya patriarki yang menempatkan laki-laki pada posisi nomor satu superior di segala aspek kehidupan baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun ruang lingkup lainnya.

Patriarki sendiri adalah suatu kondisi di mana sistem sosial menempatkan laki-laki sebagai figur yang memiliki wewenang lebih dan menganggap laki-laki memiliki derajat yang lebih tinggi dari perempuan.

Budaya patriarki ini telah terjadi secara turun-temurun dan sudah melekat dalam struktur sosial budaya masyarakat.

Fenomena ini dapat dilihat dari dominasi laki-laki dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinan. Konten-konten yang sedang viral dan ramai dibicarakan serta dianggap penting juga seringkali berpusat pada pengalaman laki-laki.

Dalam konteks ini terdapat suatu konsep yang disebut hegemoni maskulinitas, di mana perilaku laki-laki yang sebenarnya harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh masyarakat.

Sedangkan, laki-laki yang tidak mampu memenuhi standar tersebut akan mengalami diskriminasi dan subordinasi oleh masyarakat.

Fenomena men centered atau male centric juga memberi dampak besar bagi kalangan perempuan. Perempuan seringkali mendapatkan diskriminasi karena dianggap lebih rendah dan lemah dari laki-laki dalam segala aspek kehidupan.

Hampir seluruh perempuan selalu merasa tidak didengar, kurang mendapat kesempatan yang setara, dan seringkali mengalami penindasan serta dibatasi terhadap kekuasaan dan sumber daya.

Akibat fenomena ini yang dinormalisasikan oleh hampir seluruh masyarakat di setiap wilayah, laki-laki seringkali menyalahgunakan kedudukannya untuk mengancam serta melecehkan kaum wanita.

Mereka merasa leluasa melakukan hal-hal keji karena menurutnya perempuan tidak memiliki kekuatan dan keberanian lebih untuk membalas perbuatannya.

 

 

Tak hanya kaum laki-laki, bahkan masyarakat sesama perempuan juga tidak jarang memiliki pemikiran bahwa tetap perempuan yang salah saat dilecehkan oleh laki-laki karena pakaiannya yang terlalu terbuka.

Media dan budaya juga seringkali memposisikan perempuan dari sudut pandang laki-laki sebagai objek pasif yang dinikmati secara visual hanya untuk memuaskan hasrat laki-laki tanpa dipandang sebagai individu utuh yang memiliki keberagaman peran dan karakter.

Namun di lain sisi, fenomena ini juga membebankan laki-laki. Hal ini disebabkan oleh tuntutan masyarakat bahwa laki-laki harus memenuhi standar maskulinitas tertentu.

Seperti tidak boleh menunjukkan emosi atau kerentanan tertentu seperti menangis yang dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan mental mereka.

Untuk mengatasi dan meminimalisir pengaruh buruk fenomena men centered atau male centric ini diperlukan kesadaran kritis dari seluruh pihak terhadap budaya patriarki sekaligus pengaruh buruknya.

 

 

Serta upaya untuk membangun kesetaraan gender. Gerakan feminisme dan kesetaraan gender dapat menjadi peran penting dalam menentang dominasi laki-laki dan mendorong maju perspektif perempuan di berbagai bidang.

Memahami fenomena men centered atau male centric ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan sosial budaya yang lebih sehat dan setara.

Di mana suara dan peran perempuan mendapat ruang yang sama pentingnya dengan laki-laki.

FANEZA

 

 

 

 

Editor : Imron Arlado
#Laki Laki #diskriminasi #Subordinasi #fenomena #Lifestyle #Men Centered #Male Centric #kesetaraan gender #perempuan #patriarki