Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Main Game Bikin Bodoh? Mitos VS Fakta tentang Dunia Gaming

Imron Arlado • Selasa, 8 Juli 2025 | 03:08 WIB
Main Game Bikin Bodoh? Mitos VS Fakta tentang Dunia Gaming
Main Game Bikin Bodoh? Mitos VS Fakta tentang Dunia Gaming

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Main game sering kali dianggap sebagai aktivitas remeh yang hanya membuang-buang waktu, membuat malas, dan bahkan bisa disebut ‘membodohi’. Namun, apakah pandangan masyarakat tersebut valid?

Di era kini dimana digital dan teknologi tengah berkembang pesat, gaming menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik untuk hiburan, sosialisasi, hingga karir profesional.

Yuk, kita bongkar fakta dan mitos seputar dunia game yang masih sering dianggap negatif oleh stereotipe masyarakat!

Mitos 1: Main Game Membuat Bodoh

Fakta: Penelitian menunjukkan bahwa bermain game, terutama game dengan jenis strategy game, puzzle, atau RPG (Role Playing Game), dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, fokus, hingga keterampilan pemecahan masalah.

 

 

Green & Bavelier dalam Nature Reviews Neuroscience (2012) mengatakan, '’Video game dapat melatih otak dalam hal fleksibilitas kognitif.’’

Mitos 2: Bermain Game Membuat Kita Malas dan Menjadi Tidak Produktif

Fakta: Jika dilihat dari bukti sosial yang nyata, banyak gamers memiliki keahlian multitasking yang tinggi. Bahkan, beberapa dari mereka memiliki karir yang sukses dari bermain game seperti menjadi streamer, e-sports player, hingga game developer.

Ukuran ‘produktif’ bagi setiap orang pasti berbeda, bentuk dari produktif itu sendiri juga tidak selalu berarti aktif secara fisik.

Di era digital ini, banyak bentuk produktivitas kreatif yang lahir dari kegiatan gaming. Seperti konten YouTube, desain karakter, bahkan coding.

 

Mitos 3: Semua Game Memiliki Dampak yang Sama

Fakta: Game memiliki banyak genre dan tingkat kedalaman cerita. Berbeda jenis game, maka berbeda pula pengaruh yang diberikan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh NSD.co.id, game yang melibatkan strategi, pemecahan masalah, dan interaksi sosial cenderung memberikan manfaat kognitif lebih besar.

Beberapa game seperti The Last of Us atau Life is Strange memiliki narasi yang emosional dan kompleks seperti film atau novel. Sementara game seperti SimCity atau Cities: Skylines bisa menjadi simulasi ekonomi dan manajemen kota yang rumit.

 

 

Mitos 4: Bermain Game Membuat Mental Rusak

Fakta: Jika kita bermain game dengan bijak, maka hal tersebut bisa menjadi coping mechanism yang sehat. Bermain game bisa menjadi alat peralihan dari stress dan tekanan selama tidak digunakan secara berlebihan.

Namun, kita harus tetap mengontrol kebiasaan dan menjaga keseimbangan. Jangan sampai kita ada di kondisi gaming disorder, yaitu ketika kita bermain game hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Mitos 5: Tidak Ada Masa Depan dari Game

Fakta: Industri game adalah salah satu industri digital terbesar di dunia. Banyak anak muda yang mengambil karier melalui jalur game. Mulai dari e-sports player, content creator, game designer, hingga narrative writer.

Di Indonesia sendiri, e-sports sudah diakui secara resmi dan menjadi salah satu ajang kompetisi seperti SEA Games. ‘’Game bukan hanya hiburan, tapi juga potensi ekonomi kreatif,’’ ujar Wishnutama, mantan Kemenparekraf RI.

Game sendiri dapat menjadi hal yang berguna atau bahkan berbahaya tergantung siapa yang menggunakan dan bagaimana game itu digunakan. Selama dimainkan dengan sadar dan seimbang, game justru bisa menjadi sarana belajar, berkarya, bahkan berkarier. FADYA.

Editor : Imron Arlado
#main game #e-Sport #dunia gaming #RPG #Mitos vs Fakta