Ekspresi Diri dan Bermakna Filosofi
Seni tari terus berkembang seiring perubahan zaman. Bagi kalangan milenial atau Gen Z, menari tak sekadar mempertontonkan lenggok tubuh dengan irama musik. Tapi, juga menjadi sarana mengasah bakat dan mengekspresikan diri.
Tak jarang mereka turut mengkreasikan dan memodifikasi menjadi ikon gerakan baru sesuai dengan identitas daerah masing-masing. Bahkan, sejumlah tarian kreasi terus bermunculan dengan bermacam gaya.
Di Kabupaten Mojokerto, misalnya, tari Mayang Rontek telah menjadi ikon di setiap event kebudayaan digelar. Termasuk di acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Mojokerto, dengan mencerminkan nilai-nilai budaya lokal dan sarat filosofi yang lekat dengan kejayaan Majapahit.
Pun demikian di Kota Mojokerto, tari Lenggang Kali Brantas dan Putri Kusumo juga kerap ditampilkan untuk menyambut tamu saat perayaan ulang tahun kota hingga acara-acara kesenian lainnya. Dari tari-tarian itu, sebagian besar diperagakan kalangan remaja putri usia 14 hingga 20 tahun. Seolah mereka tak ragu menunjukkan bakatnya di bidang seni. Stigma kuno yang kerap diterima tak pernah mereka hiraukan. Bahkan, dengan menari, mereka bisa meluapkan seluruh emosinya.
Tentunya dengan menyesuaikan alunan musik tradisi, seperti gamelan atau campursari yang mengiringi. ’’Justru dengan menari, badan, dan raut wajah yang semula tegang, menjadi lebih rileks,’’ ujar Yowanda Rizky Mawaddah, penari asal Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari.
Wanda mengaku menggeluti tari tradisi sejak usia SD. Tak sekadar menikmati, gadis 25 tahun ini juga berkontribusi dalam menciptakan sejumlah kreasi tari khas. Sebut saja tari Lenggang Kali Brantas yang ia kerjakan bersama guru SMPN 7 Mojokerto, Arfiana Dyah Novianti.
Dengan mengolaborasikan beberapa gerakan sehingga menggambarkan kehidupan di sepanjang Sungai Brantas yang membelah Kota Mojokerto. ’’Lenggang Kali Brantas ini ada unsur tari tradisi Banyuwangian dan Madura yang lekat dengan era-era Majapahit saat itu,’’ tandasnya.
Staf Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim ini juga menegaskan, akan terus menghidupkan kesenian tari tradisi di Kota Onde-Onde. Bersama ibunya Siti Munaimah, ia bahkan telah mendirikan sanggar yang menampung anak usia TK hingga kuliah yang gandrung akan seni gerak tubuh ini.
Selain menyalurkan hobi, mereka juga turut bersaing di berbagai event atau lomba tari. Termasuk lomba tari kreasi tradisi se-Mojokerto Raya untuk siswa SD dan SMP yang akan digelar Jawa Pos Radar Mojokerto, 26 Juli nanti di Atrium Sunrise Mall Mojokerto.
Dengan turun di perlombaan, bakat mereka tidak sekadar tersalurkan. Namun, juga bisa menjadi batu loncatan untuk menggapai prestasi akademik. ’’Apalagi saat ini sudah ada ikon tari kreasi, Sandrina Mazayya yang terkenal di Indonesia. Mungkin bisa lebih banyak lagi event tari agar ekosistem kesenian terus hidup,’’ pungkasnya.
Sementara itu, tari Mayang Rontek pernah dikaji khusus dalam sebuah jurnal berjudul Makna Simbolis Tari Mayang Rontek oleh Windi Dwi Setya Agustin dan Sri Hadi. Menurut mereka, tari Mayang Rontek awalnya diciptakan sebagai pelengkap dalam prosesi manten Mojoputri. Kendati upacara Mojoputri sudah tidak lagi dilakukan, tetapi tari Mayang Rontek masih tetap ditampilkan sebagai tari lepas .
Ide awal membuat Tari Mayang Rontek dari mantan Bupati Mojokerto Machmoed Zain setelah melihat prosesi temu manten Mojoputri. Berangkat dari situ, Machmoed Zain memberi saran kepada seniman bernama Setu untuk menciptakan sebuah karya tari yang dapat digunakan usai proses bedhol manten Mojoputri.
Atas saran tersebut lahir sebuah tari Mayang Rontek di tahun 1993 dengan merivitalisasi manten Mojoputri. Tari ini termasuk dalam kategori tari rakyat yang bertemakan doa dan harapan untuk menjalani hidup dengan baik. Nama Mayang Rontek diambil dari uborampe. Di mana uborampe adalah sarana atau prasarana temanten. Mayang diambil dari sekar mayang yang mempunyai arti tongkol bunga atau dalam bahasa Jawa disebut kembang.
Sedangkan rontek adalah hiasan di atas tombak yang berbentuk rumbai-rumbai. Jadi arti dari nama Mayang Rontek adalah sebuah kembar mayang yang terdiri dari rumbai-rumba berbentuk bunga sebagai persembahan dalam pernikahan.
Tarian ini awalnya ditampilkan dalam acara manten Mojoputri yang berfungsi sebagai penyambutan dan sebagai media penyampaian pesan kehidupan. Setelah tahun 1996, tari ini dijadikan tari khas Kabupaten Mojokerto dan sering dipentaskan dalam acara resmi atau tidak resmi di Kabupaten Mojokerto. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi