Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sering Terjadi Setelah Putus Cinta! Inilah Alasan Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Mati Rasa

Agus Widyanto • Sabtu, 28 Juni 2025 | 00:33 WIB
Mati rasa merupakan salah satu respon alamiah tubuh setelah mengalami kelelahan secara emosional
Mati rasa merupakan salah satu respon alamiah tubuh setelah mengalami kelelahan secara emosional

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pernahkah kamu merasa tidak merasakan apa-apa padahal sedang mengalami hal yang seharusnya membuatmu senang atau sedih? Kondisi ini dikenal sebagai mati rasa, dan meskipun terasa aneh, ini sangat umum terjadi.

Jiemi Ardian, seorang Psikiater dari Well Spring Indonesia menjelaskan bahwa mati rasa adalah bentuk perlindungan alami dari tubuh saat kita merasa kewalahan secara emosional. Dalam dunia psikologi, ini disebut sebagai bagian dari respons stres freeze.

Secara umum, tubuh manusia punya tiga mekanisme dalam menghadapi ancaman atau tekanan, yaitu fight (melawan), flight (kabur), dan freeze (membeku).

Ketika tekanan emosional terlalu besar atau tubuh tidak bisa melawan dan kabur, maka tubuh akan masuk ke mode freeze, dan inilah saat mati rasa bisa muncul.

Mode fight terjadi saat kita merasa cukup kuat untuk menghadapi masalah, lalu memilih untuk melawan. Flight terjadi ketika kita merasa tak berdaya, lalu memilih menghindar atau kabur dari situasi.

Sementara itu, freeze aktif ketika tidak ada jalan keluar, tidak bisa melawan, dan juga tidak bisa kabur. Sehingga tubuh memilih diam dan mematikan sebagian reaksi emosi untuk melindungi diri.

Di sinilah muncul sensasi seperti hampa, kosong, tidak merasakan apapun meskipun sedang mengalami momen besar.

Ada juga respons bernama fawn, yaitu ketika kita berusaha menyenangkan orang lain agar merasa aman, bahkan jika perlu mengorbankan perasaan sendiri. Ini sering muncul dalam situasi sosial yang menekan, seperti ketika kita merasa harus tetap ramah walaupun hati menolak.

 

Baca Juga: Inilah 5 Manfaat Membuat Journaling Cara Baru Untuk Ungkapan Rasa Syukur

 

Mati rasa sering muncul setelah kejadian besar seperti kehilangan orang yang dicintai, kegagalan besar, atau pengalaman traumatis. Namun, kejadian-kejadian kecil pun bisa memicu kondisi serupa jika secara emosional mengingatkan kita pada luka masa lalu yang belum sembuh.

Misalnya, diputuskan pacar bisa terasa sangat menyakitkan padahal secara logis itu hal wajar. Tapi jika pengalaman itu membangkitkan luka lama tentang ditinggalkan atau diabaikan di masa kecil, maka rasa sakit yang muncul bisa jadi berkali lipat lebih besar.

Hal ini juga terjadi ketika tubuh sebenarnya ingin melawan atau kabur dari situasi tertentu, tapi otak menahannya. Misalnya, saat kamu ingin menghindari pertemuan keluarga karena ada seseorang yang menyakitimu, tapi kamu tetap datang karena takut omongan orang.

Tekanan sosial seperti “cepat maafkan”, “harus ikhlas”, atau “jangan lebay” membuat kita terbiasa menekan emosi. Jika dilakukan terus-menerus, tubuh kita akan terbiasa untuk masuk ke mode freeze hingga akhirnya kita merasa tidak tahu lagi apa yang benar-benar kita rasakan.

Untuk pulih, langkah pertama adalah mulai mendengarkan tubuh dan perasaan sendiri dengan jujur. Bukan dengan langsung mencari solusi, tapi dengan mengizinkan diri untuk merasa dan memahami emosi yang muncul.

 

Baca Juga: Kenali Backburner, Jangan Sampai Kamu Cuma Jadi Cadangan dalam Hubungan! Berikut Fakta Menurut Psikologi

 

Kita juga perlu menyadari bahwa luka lama bisa terus terbawa ke masa kini jika tidak benar-benar diproses. Kadang, bantuan profesional seperti Psikiater sangat dibutuhkan agar kita bisa keluar dari kebekuan emosional.

Tentunya pemulihan tidak selalu instan, tapi prosesnya akan membawa kita kembali terhubung dengan diri sendiri. Sehingga ketika kita mulai bisa merasa lagi, meski sedikit demi sedikit, itu adalah tanda bahwa kita sedang hidup kembali.

Merasakan emosi, meskipun tidak selalu menyenangkan, jauh lebih sehat daripada terus-menerus hidup dalam ketidakpekaan. Karena merasa itu bukan kelemahan, tapi tanda bahwa kita manusia yang sedang berusaha bertahan dan pulih.

Editor : Imron Arlado
#Tekanan #tekanan emosional #stres #diri sendiri #memahami emosi #senang #diputuskan pacar #menyenangkan orang lain #emosi #luka masa lalu #tubuh #psikiater