Jawa Pos Radar Mojokerto – Akhir-akhir ini, istilah Quiet Quitting menjadi semakin populer di kalangan pekerja muda, khususnya bagi generasi z (gen z). Istilah tersebut merupakan istilah untuk fenomena burnout yang seringkali terjadi pada generasi pekerja pemula.
Fenomena ini bukan berarti pekerja benar-benar berhenti dari pekerjaannya, tetapi mereka diam-diam menarik diri dan profesional yang mendalam dalam pekerjaan mereka. Mereka tetap datang ke kantor atau perusahaan, menyelesaikan tugas yang diberikan, tetapi tidak melakukan inisiatif lebih atau loyalitas terhadap pekerjaan.
Namun, apa sih sebenarnya quiet quitting itu dan apa faktor yang menyebabkan hal tersebut? Berikut penjelasannya!
Baca Juga: Desa Jrambe, Kecamatan Dlanggu Manfaatkan Tanah Kas Desa untuk Lapak Dagang bagi Warga
Pengertian Quiet Quitting
Secara harfiah, quiet quitting berarti berhenti diam-diam. Tetapi, istilah tersebut tidak tertuju pada karyawan atau pekerja yang ingin resign atau berhenti bekerja. Istilah ini merupakan kondisi di mana pekerja memutuskan untuk bekerja sesuai porsi atau kewajiban minimum mereka.
Salah satu contoh quiet quitting adalah menolak untuk bekerja lembur, tidak mau mengambil tugas tambahan, dan kehilangan semangat jika memberikan kontribusi lebih dari yang diwajibkan. Istilah ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya hustle yang memuja bekerja secara berlebihan.
Baca Juga: Berpotensi Muncul Tersangka Baru
Bagi sebagian orang, quiet quitting merupakan cara untuk menjaga kesehatan mental dan kehidupan pribadi, tetapi bagi perusahaan hal ini dapat menjadi sumber masalah dalam lingkungan kerja.
Faktor Pemicu Quiet Quitting
1. Burnout dan Kelelahan
Pekerja atau karyawan yang sedang mengalami kelelahan akibat tekanan bekerja secara berlebihan biasanya akan mudah merasa jenuh dan tidak memiliki energi untuk terlibat aktif dalam perusahaan atau kantor. Burnout merupakan alasan utama bagi karyawan atau pekerja memilih menarik diri secara perlahan
2. Tidak Bisa Mengembangkan Diri
Ketika seorang karyawan tidak merasakan pertumbuhan dalam diri mereka, mereka akan kehilangan motivasi yang menurun secara signifikan. Hal ini akan membuat mereka sulit untuk menemukan semangat untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan. Selain itu, pengembangan diri dan tim dapat memiliki peluang yang lebih besar untuk menciptakan inovasi.
Baca Juga: Proyeksi Belanja Daerah Membengkak Rp 2,966 Triliun
3. Kurangnya Apresiasi
Ketika kamu merasa kurang diapresiasi, dampaknya akan sangat signifikan terhadap kinerja di perusahaan. Misal, kamu sudah memberikan kontribusi lebih, tetapi tidak diberi tanggapan positif, hal tersebut dapat membuat merangsang perasaan diabaikan.
Selain itu, kurangnya pengakuan dapat berdampak bagi antar rekan kerja. Maka dari itu, sangat penting untuk menciptakan budaya tim yang mendorong apresiasi terbuka dan pengakuan di setiap kontribusi sehingga setiap individu merasa dihargai.
4. Kurangnya Dukungan dan Komunikasi
Baca Juga: Tak Terawat, Lampu Hias Trotoar Lenyap
Komunikasi yang berantakan juga dapat menjadi faktor penting dalam quiet quitting. Komunikasi yang tidak efektif dapat membuat karyawan merasa tidak didengar. Hal tersebut berdampak pada ketidakpastian peran dan memunculkan perasaan terisolasi yang dapat membuat menurunkan semangat kerja.
Dukungan dalam tempat kerja juga sangat penting, karena rasa saling mendukung dapat memberikan motivasi dan kenyamanan. Maka dari itu, penting menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, di mana setiap individu merasa didengar, dihargai, dan mendapat dukungan.
5. Kurangnya Keseimbangan Kerja dan Kehidupan Pribadi
Keseimbangan dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi salah satu faktor krusial yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan. Jika terlalu banyak bekerja, maka dapat merasa kelelahan secara fisik maupun mental.
Baca Juga: Pernah Ditutup Tahun 1942
Penting untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi agar kesehatan mental dan fisik terjaga. Dengan memprioritaskan keseimbangan ini, perusahaan akan menghindari risiko quiet quitting.
Itulah pengertian dan faktor risiko munculnya quiet quitting. Bagaimana menurutmu? RENO
Editor : Imron Arlado