Jawa Pos Radar Mojokerto – Sebagai makhluk sosial, kita perlu bercerita kepada orang lain agar beban-beban yang ada dapat hilang. Sebab perasaan yang dipendam sebenarnya tidak benar-benar hilang, melainkan menunggu waktu yang tepat untuk meledak.
Perasaan atau emosi yang dipendam sama seperti botol soda yang terlihat tenang namun tiba-tiba berdesis ketika tutup botol sedikit dibuka. Emosi yang terlalu lama disimpan juga akan mencari jalan keluarnya sendiri.
Meskipun banyak beban yang ditanggung, banyak orang yang tetap terlihat bahagia, ceria, dan percaya diri. Namun, dibalik senyuman tersebut seringkali tersimpan banyak beban dan penderitaan yang tidak bisa diungkapkan.
Berikut ini adalah 5 kebiasaan seseorang yang sering memendam perasaan tanpa benar-benar menyadarinya:
1. Terlalu Fokus Membantu Orang Lain, Tetapi Mengabaikan Diri Sendiri
Baca Juga: Pengaduan Wali Kota Mojokerto Ning Ita-Wawali Cak Sandi Ditolak DKPP
Seseorang bisa menjadi garda terdepan untuk membantu teman dan menjadi pendengar yang baik. Tetapi, giliran diri mereka yang membutuhkan sesuatu, mereka tidak bisa menyempatkan waktu. Mereka sibuk mengurus atau membantu orang lain agar dapat menghindari ketenangan batin yang menekan.
Jika kebiasaan “menolong” terasa seperti pelarian, maka sudah saatnya memberi diri sendiri perhatian yang sama seperti yang kamu berikan kepada orang lain.
2. Kegiatan Padat Tanpa Istirahat
Baca Juga: Finishing Masjid Agung Darussalam Mojokerto Membutuhkan Anggaran Rp 20 Miliar
Terkadang kegiatan yang padat bukan tentang ambisi, tetapi bisa saja menjadi bentuk lain dari pelarian. Aktivitas yang tak kunjung berhenti membuat otak dan diri kita tidak bisa memikirkan atau mendengar suara hati sendiri.
Padahal meluangkan waktu sejenak tanpa distraksi dapat membuka ruang untuk pikiran dan otak agar dapat berpikir jernih dari ketenangan emosional.
3. Sering Menjawab “Aku Baik-Baik Saja”
Baca Juga: Elemen Masyarakat Dorong Dialog Terbuka, untuk Merevisi Narasi Sejarah Soekarno di Mojokerto
Menjawab “baik-baik saja” sering terucap lebih cepat dari kesadaran diri sendiri. Tanpa sempat memindai pertanyaan atau apa yang dirasakan, mulut sudah menjawab lebih dulu. Padahal, tubuh sudah memberi sinyal seperti napas pendek, jari gemetar, ataupun kaki bergetar.
Sebaiknya, sebelum menjawab sebuah pertanyaan, lebih baik pikirkan jawaban yang dapat membantu membangun kebiasaan menyadari perasaan tanpa harus langsung memperbaikinya.
4. Mengandalkan Logika daripada Perasaan
Baca Juga: Belum Genap Dua Bulan Kembali Diperbaiki, Paving Jalan Soekarno Kota Mojokerto Renggang Lagi
Banyak orang yang dapat menjelaskan semua masalah dengan sangat rapi dan tertata. Tetapi, saat ditanya perasaan mereka, mereka justru terdiam. Logika inilah yang menjadi perisai untuk menghindari kekacauan emosional.
Meskipun tubuh tetap memproses tekanan dan tak peduli seberapa otak kita berpikir, logika kita akan ada untuk menghindari kekacauan emosional tersebut. Daripada mengabaikan perasaan, lebih baik merasakan apa yang dirasakan oleh tubuh, seperti rasa sakit, sesak ataupun yang lain.
5. Menggunakan Layar Ponsel hingga Larut Malam
Baca Juga: Jembatan Gajah Mada Aus, DPUPR Kota Mojokerto Klaim Perbaikan On Progress
Meskipun badan sudah lelah, tetapi tangan dan mata masih menggunakan ponsel untuk menggeser layar, maka hal itu bisa saja bukan sekadar kebiasaan buruk. Kebiasaan ini sering digunakan untuk menunda waktu menghadapi keheningan malam untuk mengajak pikiran kembali ke dalam diri.
Daripada menghabiskan waktu semalaman untuk bermain ponsel, gantilah menjadi menulis atau mencatat di buku catatan. Cara ini dapat membantu kita untuk memberi ruang emosi yang sehat.
Itulah 5 kebiasaan seseorang yang sering menyembunyikan perasaannya dan tidak disadari. RENO
Editor : Imron Arlado