Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Gaya Hidup Digital Nomad di Kalangan Muda

Martda Vadetya • Senin, 16 Juni 2025 | 03:42 WIB
LINTAS NEGARA: Rizki Pratama saat menghadiri kegiatan IT di Thailand beberapa waktu lalu.
LINTAS NEGARA: Rizki Pratama saat menghadiri kegiatan IT di Thailand beberapa waktu lalu.

Kerjaan Cepat Kelar, Dibayar dengan Dolar

 Pesatnya perkembangan teknologi memunculkan alternatif dalam cara bekerja di tengah dunia yang semakin modern. Salah satunya digital nomad atau bekerja tanpa harus pergi ke kantor. Mereka justru lebih sering bekerja dari rumah maupun kafe ketimbang ngantor.

 Digital nomad merupakan istilah bagi seseorang yang bekerja secara remote atau jarak jauh. Berbekal teknologi digital mereka bisa bekerja tanpa harus ke kantor maupun di suatu tempat tetap. Hal ini seperti yang dijalani Rizki Pratama. Sejak 2021 pria asal Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, ini menjadi digital nomad.

 Selama lima tahun belakangan, Rizki keluar masuk kerja di sejumlah perusahaan tekonologi multinasional. Baik yang berkantor di Jerman, Thailand, hingga kini dia di-hiring sebagai salah satu dari 69 orang software engineer pengembang Copilot. Platform artificial intelligence (AI) besutan Microsoft Corp, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat.

 Pria 35 tahun ini mengaku terjun sebagai remote worker lintas negara karena bekerja di perusahaan IT Indonesia dinilai kurang representatif. Hal ini yang membuatnya apply ke berbagai perusahaan multinasional lewat berbagai platform yang ada. ”Untuk bidang IT, di Indonesia sendiri iklim kerja maupun lowongan kerjanya masih susah. Yang punya skill memadai belum tentu di-hiring,” ungkapnya.

 Sejak menjadi freelancer Microsoft setahun terakhir, lanjut dia, tentu dirinya jarang ngantor atau kerja tatap muka. Dia lebih sering kerja dari rumah ataupun kafe. Dengan rekan kerjanya yang juga berasal berbagai negara, dia lebih sering koordinasi secara daring. ”Ya mungkin setahun sekali ke kantor pusat. Atau kalau ada event tertentu saja,” imbuh alumnus Universitas Brawijaya ini. 

Karena itu gadget dan jaringan internet stabil mesti stand by 24 jam penuh. Tak lain agar pekerjaannya bisa rampung sesuai target. Rizki menuturkan, deadline tugas yang harus rampung cepat jadi salah satu tantangan tersendiri. Sebab, hal ini berpengaruh pada pola istirahatnya yang bisa berdampak pada kesehatan. ”Bisa dibilang, kita jadi robot, harus cepat. Pernah dapat tugas proyek berat, pernah sampai sebulan penuh nggak tidur,” bebernya.

 Meski begitu, bekerja daring untuk perusahaan teknologi kenamaan ini ada nilai lebihnya. Yakni, upah yang memadai sesuai apa yang dikerjakan. Duit dolar yang dikantongi setiap bulan jika dikurskan rupiah bisa mencapai puluhan juta. Itu belum termasuk bila ada proyek tambahan. ”Sesuai dengan apa yang kita kerjakan,” tandasnya. (vad/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#digital nomad #Lifestyle #gaya hidup