Menghabiskan lebih banyak waktu di satu destinasi, menjalin interaksi sosial dengan masyarakat setempat hingga memerhatikan dampak lingkungan memang tengah ngetren di kalangan milenial setahun terakhir. Berkunjung santai, atau slow travel tidak sekadar menghemat biaya, tapi juga menawarkan pengalaman yang lebih autentik.
Dengan slow trevelling, para pelancong tidak lagi dikejar dengan jadwal dan itinerary yang berjibun. Cukup satu atau dua kunjungan di satu lokasi, sudah cukup membayar makna liburan mereka. Alih-alih berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu singkat, slow travel justru mendorong wisatawan tinggal lebih lama di satu lokasi. Berinteraksi dengan penduduk setempat menjadikan perjalanan kian bermakna.
’’Selain santai, komunikasi dengan penduduk atau warga sekitar lokasi liburan justru punya kesan alami atau asli,’’ ungkap Muhammad Uli Uhib, warga Desa Karangkedawang, Kecamatan Sooko. Bersama sang istri, karyawan salah satu pabrik kertas ini sudah beberapa kali mencoba slow travelling di beberapa tempat. Salah satunya saat berkunjung di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, akhir 2024 lalu.
Di sana, Uhib dan Nanda istrinya dapat berinteraksi dengan masyarakat Bali asli yang tinggal di dataran tinggi sekitar kaki Gunung Batur. Ketika menginjakkan kaki ke sana, Uhib merasakan suasana yang tenang dan asri dari desa yang asal kata namanya berasal dari Pengeling Pura. Lebih autentik dan menarik. ’’Kami dapat tahu sejarah dan filosofi dari beberapa tempat suci,’’ tambahnya.
Uhib tak mengelak, kunjungan santai dan sederhana biasanya ada di kawasan yang asri, seperti pegunungan atau pantai. Selain udaranya yang sejuk, frekuensi perjalanan dan transportasi tidak banyak meninggalkan karbon. Sehingga dapat membantu dalam menjaga lingkungan.
’’Bangunan yang ada juga masih sederhana. Tidak banyak transportasi pribadi, lebih mengandalkan trasnportasi lokal,’’ ungkapnya. Pria 27 tahun ini juga memberikan tips agar liburan dan kunjungan lebih bermakna. Yang utama adalah membiarkan perjalanan mengalir secara alami.
Menikmati secangkir kopi di kafe lokal atau sekadar berjalan santai di sekitar desa justru bisa menjadi pengalaman yang berharga. Dengan perjalanan yang lebih santai dan penuh makna, pelancong tidak hanya mendapatkan kenangan yang lebih mendalam. Tetapi juga berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan memperkaya hubungan dengan masyarakat setempat. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi