JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Era modern menjadikan kehidupan seakan berada di surga pilihan. Begitu banyak pilihan yang bisa kita pilih misalnya, banyak pilihan menu makan, pilihan model baju baik di toko offline maupun online.
Hidup seakan begitu mudah dengan banyaknya pilihan di depan mata. Namun, menurut para ahli psikolog terlalu banyak pilihan justru membuat seseorang makin pusing, cemas, dan bahkan menyesal. Kondisi ini dikenal dengan istilah Paradox of Choice.
Konsep yang dipopulerkan oleh psikolog Barry Schwartz ini menentang adanya pemikiran umum kita, penjelasannya akan banyaknya pilihan tidak membawa kebahagiaan, malah sering kali berakhir menjadi tekanan dan ketidakpuasan.
Psikolog asal Amerika ini menjelaskan pengertian dari istilah ini dalam bukunya yang berjudul Paradox of Choice: Why More Is Less, yang merupakan suatu kondisi yang menjadikan seseorang pusing bahkan ragu dalam mengambil keputusan yang disebabkan banyaknya opsi pilihan yang tersedia.
Mengapa banyak pilihan justru menjadikan seseorang pusing?
- Kelelahan pada otak, setiap kali memikirkan setiap pilihan tentunya membutuhkan energi. Lalu bagaimana jika seseorang dihadapkan dengan banyak pilihan? Justru setiap pilihan akan menguras energi, jika semakin banyak pilihan akan menjadikan semakin banyak energi yang dibutuhkan otak untuk berfikir.
- Analysis paralysis, banyaknya opsi menjadikan seseorang cenderung memikirkan sampai detail terkecil, hal ini menjadikan seseorang pada kondisi banyak berpikir namun tidak bisa memutuskan pilihannya.
Baca Juga: Tren Nikah Muda: Mimpi Indah atau Jebakan Realita? Berikut Fakta dan Resiko yang Wajib Diketahui!
Lalu bagaimana Paradox of Choice dapat menjadikan seseorang makin pusing?
Berikut dua aspek utama dari Paradox of Choice, dilansir oleh Radar Mojokerto dari website Clear Voice.
- Secara umum, ketika seseorang dihadapkan banyak pilihan, maka akan sulit dalam pengambilan keputusan.
- Karena terjebak dalam kesulitan mengambil keputusan, seseorang cenderung tidak puas akan pilihannya dan akan menyesali hal ini.
Paradox of Choice memang nyata adanya, namun bukan berarti seseorang harus pasrah akan kebingungan dan rasa penyesalan. Gunakan strategi yang tepat, sehingga banyaknya opsi pilihan tidak menjadi sumber kebingungan dan rasa penyesalan.
Editor : Imron Arlado