JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kemajuan teknologi menjadikan keseharian kita dibombardir dengan aktivitas digital, informasi serba cepat, hingga tren yang serba baru sekana tiada habisnya.
Tekanan seakan memaksa untuk tetap terkoneksi, terlibat, dan tidak ketinggal menjadi pendorong kuat di era digital, sehingga menjadikan adanya FOMO (Fear of Missing Out). Fenomena ini menjadikan individu tak terpisahkan dengan kehidupan banyak orang. Adanya FOMO menjadikan seseorang memiliki kecemasan atau rasa takut akan ketertinggalan dari informasi, tren, atau aktivitas yang dilakukan banyak orang.
Namun, adanya fenomena FOMO ini juga melahirkan kesadaran akan pentingnya JOMO (Joy of Missing Out), sebuah fenomena yang menawarkan ketenangan dan kebahagiaan dengan memilih melewatkan beberapa hal. Lantas, dari kedua fenomena ini mana yang menjadi kunci untuk mencapai kesehatan mental, agar hidup lebih bahagia dan tenang?
FOMO dan JOMO tentu dua fenomena dengan konsep yang berlawanan namun sama-sama berkaitan dengan gaya hidup di era digital ini. Tentu dengan memahami perbedaan dan dampak yang ditimbulkan dari kedua fenomena ini adalah langkah awal menuju kehidupan agar lebih bahagia dan tenang.
FOMO (Fear of Missing Out)
Berdasarkan artikel dari Universitas Pertamina, FOMO adalah rasa takut akan ketinggalan pada suatu aktivitas. Hal ini didasarkan pada rasa takut yang dipicu kebutuhannya sebagai manusia untuk diikutsertakan. Rasa takut yang ditimbulkan bisa menimbulkan perasaan cemas atau khawatir.
Baca Juga: Tampil Percaya Diri! ‘Main Character Energy’ Jadi Kunci Gen Z Jalani Hidup Tanpa Minder
JOMO (Joy of Missing Out)
Dikutip dari hellosehat, JOMO adalah istilah yang merujuk pada tindakan untuk memilih tidak terlibat dalam kegiatan tertentu, terutama yang berkaitan dengan media sosial atau sumber hiburan lainnya.
Perasaan ini didasari karena adanya kepuasan yang timbul dari diri sendiri, sehingga merasa tidak membutuhkan untuk mengikuti hal-hal yang tren saat ini.
Mana yang menjadi kunci kesehatan mental agar lebih sehat?
Secara umum, menurut beberapa penelitian JOMO menjadi pendekatan yang jauh lebih sehat untuk kesejahteraan mental di era digital. Meskipun FOMO adalah respon alami yang diberikan tubuh, karena jika dikaitkan dengan kebutuhan dasar manusia, tentunya Fear of Missing Out menjadi hal yang wajar selama tidak memberikan dampak negatif pada diri sendiri. Sebaliknya jika tidak ditempatkan dengan baik, FOMO bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri dan kesehatan mental.
Baca Juga: Tren Menikmati Wisata Jomo yang Anti-Fomo, Suasana Tenang Bikin Damai
Editor : Imron Arlado