JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Dalam hiruk pikuknya kehidupan yang menuntut manusia untuk serba cepat, serba bisa, dan bahkan tekanan agar tetap terlihat bahagia di era digital, memunculkan berbagai fenomena yang justru menjadi bumerang bagi kesehatan mental.
Pada kalangan Generasi Z, fenomena seperti ini dikenal dengan istilah toxic positivity, atau bisa diartikan sebagai positivitas yang beracun.
Lantas apa yang pengertian dari toxic positivity itu?
Menurut beberapa peneliti, istilah ini merupakan suatu keyakinan terlepas dari betapa sulitnya sebuah situasi, seseorang harus mempertahankan pola pikir yang selalu positif. Bahkan seseorang harus menyembunyikan emosi negatif seperti sedih, marah, atau kecewa.
Sekilas memang terlihat baik dan tidak akan menimbulkan apapun. Namun, ketika sikap ini diterapkan secara terus-menerus bahkan berlebihan, atau bisa juga memaksa tentunya sikap ini akan menjadi racun yang merusak diri.
Bagi Gen Z, perlu sekali membedakan antara optimisme sehat dan positivisme yang beracun. Meskipun jika dilakukan hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Gen Z di tengah era good vibes only.
Perlu diketahui, mengabaikan atau menekan emosi negatif justru memiliki dampak buruk bagi perkembangan mental dan kemampuan Gen Z dalam menghadapi masalah.
Baca Juga: Jangan Dianggap Remeh, Inilah 6 Tanda Kamu Sedang Menjalani Hubungan Toxic
Apa ciri-ciri toxic positivity ?
Banyak sekali sikap yang bisa memicu terjadinya toxic positivity, karena sikap ini tentu mendorong secara berlebihan dan tidak realistis untuk selalu bersikap positif, bahkan bisa juga dengan menolak adanya kesulitan atau emosi negatif.
Contohnya, “Semua akan baik-baik saja,” “Lihat sisi positifnya saja,” atau bahkan “Jangan sedih, kamu harus bahagia!”.
Menurut website resmi alodokter, “ada beberapa hal yang menandakan seseorang sedang terjebak di dalam toxic positivity, antara lain”.
- Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya sedang dirasakan
- Terkesan menghindar atau membiarkan masalah
- Merasa bersalah ketika merasakan atau mengungkapkan emosi negatif
- Mencoba memberikan semangat kepada orang lain, tapi sering disertai dengan pernyataan seolah meremehkan, misalnya mengucapkan kalimat “jangan menyerah, begitu saja kok tidak bisa”
- Sering mengucapkan kalimat yang membandingkan diri dengan orang lain, contohnya, “kamu lebih beruntung, masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu”
- Melontarkan kalimat yang menyalahkan orang yang tertimpa masalah, misalnya “coba deh, lihat sisi positifnya. Lagi pula, ini salahmu juga kan?”
Tanpa disadari sikap ini akan menjadikan kita sebagai seorang yang berlomba-lomba untuk menunjukkan sisi terbaik dari kehidupan kita. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap penolakan emosi negatif pada diri sendiri karena ini selalu terlihat sempurna.
Penting bagi kita mengingat bahwa optimisme itu baik, namun harus realistis. Izinkan diri dan orang lain juga turut merasakan semua spektrum emosi. Hanya dengan seperti ini, Gen Z bisa berkembang dan tumbuh menjadi individu yang sehat secara mental.
Editor : Imron Arlado