Sensasi Legit-Pahit Menjadi Satu
Dijuluki si raja buah, sejumlah durian kian berkembang dengan bentuk, aroma, dan rasanya yang khas. Di Kabupaten Mojokerto, terdapat dua desa yang menjadi penghasil durian hingga banyak diburu wisatawan dari luar daerah. Masing-masing di Desa Duyung, Kecamatan Trawas, dan Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang.
Saat akhir pekan, suasana di dua desa ini kerap dijubeli pengunjung maupun wisatawan yang ingin merasakan sensasi manis pahitnya kedua varietas durian lokal tersebut. Meski harus merogoh kocek hingga puluhan ribu per buah, namun para wisatawan seolah ketagihan dengan rasa legit yang ditawarkan.
Hal ini pun menjadi berkah bagi petani dan pedagang durian setempat yang selalu menantikan datangnya musim durian setiap tahun. Akan tetapi, musim durian tahun ini terhitung terlambat ketimbang sebelum-sebelumnya. Di mana, buah dengan kulit berduri keras ini baru muncul di bulan Desember 2024. Atau mundur dua bulan dari biasanya yang mulai berbuah di bulan Oktober. ’’Baru mulai musim sejak bulan Desember (2024) kemarin, efek kemarau panjang,’’ ungkap Eka Nur Oktaviana, pedagang durian di Desa Duyung.
Meski begitu, Eka mengaku para pelanggannya cukup setia menunggu munculnya durian asli Trawas yang ia jual. Khususnya, jenis merica, mentega, dan susu yang menawarkan rasa legit dan pahit bercampur jadi satu. Meski ukurannya lebih kecil ketimbang durian asal Wonosalam, Jombang, maupun Watulimo, Trenggalek, namun buah yang ditanam di lereng Gunung Penanggungan ini banyak diburu pembeli.
’’Yang paling populer ya jenis merica, karena rasanya legit-pahit meskipun ukurannya kecil dan warnanya cokelat. Selain itu, ada jenis manis-pahit, mentega, dan susu yang juga banyak tumbuh di kebun sekitar Trawas,’’ ungkapnya. Tidak hanya jenis lokal, wanita 36 tahun ini turut menjajakan durian musang king, montong, hingga bawor yang terkenal pulen dan manis.
Kian berkembangnya dunia durian membuat petani lokal turut membudidayakan durian varietas unggul ini. ’’Di sini (Trawas, Red) khasnya durian merica. Tapi, saat ini petani banyak yang menanam jenis musang king dan montong,’’ tambahnya.
Untuk harga sendiri, ibu dua anak ini mematok harga durian lokal mulai Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu per butir, berdasarkan ukuran dan jenis buah. Pun demikian juga dengan durian unggul, ia membanderol mulai dari harga Rp 80 ribu hingga 200 ribu per kilogram.
Patokan harga tersebut diakui Eka terhitung cukup mahal. Hal ini tak lepas dari jumlahnya yang masih minim. Mengingat, belum semua pohon durian di Trawas bisa dipetik buahnya. ’’Banyak pohon yang tidak berbuah atau jumlah buahnya tidak lebat karena efek kemarau panjang. Kelihatannya tidak ada panen raya tahun ini,’’ tandasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi