Datangkan Cuan dari Konsistensi Konten
Media sosial telah berkembang pesat sebagai platform digital paling populer di dunia. Tidak hanya menawarkan informasi, namun juga menjadi peluang untuk meraup pendapatan. Khususnya, bagi affiliate marketing (pemasaran afiliasi) dan konten kreator generasi-Z atau Gen-Z yang banyak muncul di beranda media sosial dengan menawarkan sejumlah produk unggulan.
Termasuk di Mojokerto. Aejumlah kaum muda bermunculan menjadi afiliator, sebutan bagi pelaku afiliasi. Salah satunya Muhammad Nasikin, warga Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, yang sudah berkecimpung di dunia keranjang kuning, Tiktok, sejak tahun 2022 silam.
Dari akun Tiktok pribadinya itu, pemuda 25 tahun ini berhasil meraup pundi-pundi uang hingga ratusan juta. Bahkan, untuk satu video tertentu, Sikin, sapaan akrab Muhammad Nasikin, mampu mendapatkan pembagian untung hingga puluhan juta. ’’Dulu awalnya iseng jual jersey tim esport, ternyata laku di TikTok. Terus berkembang ke produk UMKM lokal. Seperti, sepatu, celana, dan hoodie,” terangnya.
Produk mainan dan elektronik juga banyak yang laku setelah dia tawarkan. ”Alhamdulillah, bisa dapat untung sampai dua digit (puluhan juta) untuk satu video,’’ ungkapnya. Tentu, pendapatan tersebut tidak dengan gampang diraih. Ada perjuangan dan tantangan yang harus dilewati, agar konten video produknya laku dan dilihat banyak orang. Salah satunya adalah harus kreatif dalam membuat konten. Bahkan, Sikin harus terus update informasi yang tren di media sosial.
Hal ini untuk mengimbangi arus informasi agar videonya ikut terangkat atau fyp (for your page). ’’Yang mahal itu kan sebenarnya ide kreatifnya. Bagaimana orang dengan gampang dan tidak bosan melihat video kita. Sehingga dengan mudah diarahkan untuk membeli produk yang ditawarkan,’’ tambahnya.
Seorang afiliator juga dituntut mampu konsisten dalam memproduksi konten. Sebab, persaingan dunia digital hari ini sudah semakin sengit. Bahkan, pertumbuhannya cukup pesat sejak dua tahun terakhir. Hal ini yang memaksa seorang afiliator harus mampu menjaga konsistensi, meski digempur para pesaing dengan ide-ide kreatifnya.
’’Kalau dulu sedikit, bahkan kalau di Mojokerto, saya termasuk yang mengawali. Namun, sekarang sudah banyak yang mengikuti. Sampai ada yang bela-belain resign dari kerja utamanya demi meraup cuan sebagai afiliator,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi