Anggun dan Mewah
Merancang busana pesta yang anggun dan indah bukan perkara mudah. Butuh inspirasi, ketelatenan, dan skill yang matang untuk bisa menghasilkan karya busana modern dan kekinian. Apalagi, jika hasil karya tersebut dapat dipamerkan dan diapresiasi para pegiat fesyen.
Seperti yang dilakoni 18 desainer muda SMKN 1 Sooko, Kabupaten Mojokerto saat tampil di catwalk fashion show sebagai rangkaian event Job Fair SMK Pusat Keunggulan (PK) Mojokerto Raya 2024 di Atrium Sunrise Mall Kota Mojokerto, Kamis (3/10).
Selama tujuh hari, mereka berjibaku menyiapkan gaun pesta dengan berbagai model dan gaya. Tidak hanya itu, mereka juga tertantang dengan metode perancangan busana menggunakan teknik draping. Yakni, dengan cara melipat, memutar, meremas, dan menjahit kain di atas manekin.
Hal ini, yang belum pernah ada sebelum-sebelumnya, sehingga cukup menyulitkan belasan desainer muda itu dalam menaklukkan tantangan tersebut. ’’Selama tujuh hari kami terus berusaha membuat gaun dengan teliti agar dapat menghasilkan karya busana yang anggun dan indah,’’ ungkap Alvi Yuliarti Nurkhasanah, siswa tata busana SMKN 1 Sooko ini.
Namun, Alvi menegaskan, untuk bisa merancang busana yang baik dan benar, dibutuhkan effort yang besar. Selain harus bisa menuangkan ide di dalam moodboard, seorang desainer juga dituntut teliti dalam mengerjakan setiap jahitan.
Hal ini, yang justru menjadi tantangan beratnya. Mengingat, ketelitian juga membutuhkan mood yang tinggi. Untuk itu, selama pengerjaan, para desainer harus memiliki motivasi kuat agar bisa menghasilkan karya sesuai yang diharapkan. ’’Tantangannya memang ada di mood dan inspirasi. Ketika sedang tidak mood, maka ketelitiannya berkurang,’’ tambah gadis asal Desa Banjaragung, Kecamatan Jetis ini.
Setiap desainer juga dituntut update terhadap gaya mode saat ini. Khususnya jenis busana gaun pesta yang kini sedang booming, yakni old soldier. Di mana, penggunanya akan disuguhkan dengan rancangan asimetris, khususnya di bagian lengan. Gaya tersebut cukup sulit dirancang dan diterapkan, lantaran ukurannya yang tidak presisi. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para desainer.
’’Kalau dari gaya, mungkin gaya old soldier sangat menantang. Karena kembali ke masa lampau dengan tambahan bustier atau kemben sebagai motif dasarnya,’’ ungkap gadis 17 tahun ini. Selain itu, juga pilihan warna dan kainnya yang dibutuhkan kepekaan dan kecocokan. Hal ini, agar setiap busana yang ditampilkan memunculkan estetika seni. ’’Untuk jenis kain, ada kain satin silk atau duchess yang kainnya licin dan berkilau. Untuk menambah kesan elegan dan glamor,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi