Dalam kisah sejarah, tari Bedaya sendiri lahir di era Kerajaan Mataram Islam dengan nama Bedaya Ketawang. Penciptanya adalah raja pertama Mataram, Sultan Agung Panemban Senopati Ing Alaga tahun 1613-1645.
Putut Nugraha, perupa sekaligus budayawan Mojokerto menuturkan, semula Panembahan Senopati tidak ada rencana menciptakan tari Bedaya Ketawang.
Namun, untuk memperkuat posisinya sebelum dinobatkan sebagai raja, Penembahan Senopati memutuskan melakukan ritual pertapaan di kawasan Parang Tritis, pantai selatan Jawa.
”Semedi ini dilakukan guna memperkuat posisi beliau yang akan dinobatkan sebagai raja,” terangnya. Putut mengungkapkan, selama menjalankan ritual pertapaan, kala itu Panembahan Senopati masih menyandang nama Sutawijaya. ”Karena belum dinobatkan sebagai raja,” imbuh dia.
Nah, di tengah menjalankan pertapaan, kata Putut, Penembahan Senopati tiba-tiba didatangi seorang perempuan berparas cantik. ”Belakangan wanita cantik itu diketahui bernama Kencono Sari,” tambahnya. Dalam singkat cerita, kedua tokoh ini akhirnya saling jatuh cinta. ”Dari sini lahirlah ide untuk membuat tari Bedaya Ketawang,” jelasnya.
Dia mengungkapkan, Tawang dalam tradisi Jawa mempunyai makna sesuatu yang bernilai luhur. Dalam filosofinya menggambarkan simbol keluhuran dan kesucian yang tak lain adalah ketuhanan.
”Bisa dikatakan, dia bisa bertemu Kencono Sari dan bisa menjadi raja karena anugerah dari ilahi (Tuhan),” papar Putut. Berangkat dari perjalanan ini kemudian tercetuslah untuk membuat gerakan tari yang disebut Bedaya Ketawang.
Putut menyatakan, dalam tradisi keraton Jawa, tari ini biasa ditampilkan sekali dalam setahun. Yaitu, ketika mementum penobatan raja atau peringatan penobatan raja, dan acara ulang tahun penobatan.
Di samping itu, tari Bedaya juga dihadirkan khusus untuk penyambutan pejabat atau tamu-tamu keraton. ”Uniknya, jumlah penari perempuan yang dilibatkan ini harus ganjil, sembilan orang,” tegas Putut. Penari yang dipilih juga dituntut selalu memahami persyaratan dan ketentuan.
Di antaranya, masih gadis atau perawan, harus dalam keadaan suci, dan menggunakan seragam sama didominasi warna hijau. ”Serta menjalankan ritual puasa di tempat khusus sebelum pertunjukan resmi,” urai Putut.
Berkaitan dengan hal tersebut, menurut Putut, di Jogjakarta, istilah ritual ini biasa disebut dengan Gedong Songgobuono. Terlebih, ketika itu, Jogjakarta dan Keraton Surakarta masih menjadi satu.
”Namanya Keraton Mataram,” paparnya. Baru saat perjanjian Gyati tahun 1700-an kemudian terpisah menjadi dua. Jogjakarta dan Kertosuro. Sehingga, dari cerita ini, jika dikaitkan dengan seiring meningkatnya perkembangan seni dan budaya di Mojokerto, tari Bedaya Putri Mojosakti memang murni hasil tari kreasi. ”Bukan dari warisan kerajaan atau keraton terdahulu,” paparnya. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi