Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kreasi Batik Akulturasi Budaya Otentik, Etnik, & Cantik

Martda Vadetya • Minggu, 15 September 2024 | 14:10 WIB
ORIENTAL: Batik khas Mojokerto dikreasikan menjadi busana qipao khas masyarakat Tionghoa yang hasilnya tak kalah apik.
ORIENTAL: Batik khas Mojokerto dikreasikan menjadi busana qipao khas masyarakat Tionghoa yang hasilnya tak kalah apik.

Kain batik kini tak melulu dirancang menjadi setelan busana atas dan bawahan yang monoton. Bahkan, batik kini mampu dikreasikan menjadi beragam fesyen daerah yang tak kalah menarik, etnik, dan lebih terlihat cantik.

Salah satunya seperti yang dilakukan Dessy Dhalia Sari. Desainer butik JDF ini mengkreasikan kain batik Majapahitan menjadi beragam busana yang apik.

Bahkan, batik Khas Mojokerto tersebut dikawinkan dengan budaya daerah lain hingga menelurkan rancangan busana menarik. Seperti qipao atau cheongsam busana khas etnis Tionghoa, dress kerancang, hingga kebaya Bali.

”Kita menciptakan model baru dengan rearrange (menyusun ulang). Seperti qipao ini motifnya kita mapping dengan batik motif Tugu Wiraraja,” ujar warga Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto ini.

Menurutnya, rancangan kain batik saat ini cenderung fleksibel. Yang tidak harus menonjolkan kesan atau corak batik full dari baju hingga celana. ”Dari situ kita coba inovasi dengan mengakulturasi budaya dari beberapa daerah. Dan tampilannya kita sesuaikan dengan yang kekinian. Ada beberapa motif batik yang kita pakai, seperti gapura Wringin Lawang, Surya Majapahit termasuk teratai, dan udan liris,” ungkap perempuan kelahiran 1 Desember 1979 ini.

Beragam busana ini, lanjut Dessy, relatif cocok dipakai acara formal. ”Seperti kebaya modern ini bisa dipakai buat wisuda, prewedding atau tunangan. Kalau qipao lebih ke sangjit (tunangan) sama prewedding. Untuk kebaya lebih fleksibel disesuaikan,” sebutnya. Dia menjelaskan, batik masih cocok dirancang menjadi berbagai busana kedaerahan. Seperti daerah Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Tionghoa.

Sehingga dapat dihasilkan kreasi batik yang lebih fresh dan tidak monoton. Sekaligus batik khas daerah masing-masing. Seperti batik Majapahitan, bisa dikenal luas ke luar daerah hingga seantero negeri. Sehingga output yang diharapkan lebih dikenal dan mampu berdampak pada nilai penjualan.

”Dari kreasi-kreasi busana ini harapannya batik bisa lebih dikenal luas dari berbagai lapisan masyarakat. Seperti batik Majapahitan ini, sudah dipakai finalis ajang Miss China Indonesia tahun 2022 lalu,” beber alumnus Poltek API Yogyakarta ini.

Tak hanya soal busana, lanjut Dessy, batik bisa diimplementasikan menjadi sarung bantal hingga fesyen item lainnya yang lebih kekinian. Seperti sepatu, topi fisherman, tote bag maupun sling bag.


”Jadi, sasarannya bisa mencakup ke kalangan anak muda. Soal bahan batik yang dipakai tentu menyesuaikan. Memang lebih baik batik cap supaya harganya terjangkau,” tandas Dessy. (vad/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#batik #Lifestyle