RADARMOJOKERTO - Motor bebek kini jadi salah satu kendaraan ikonik. Seolah tak terkikis zaman, motor bebek jenis Honda Astrea Grand ini semakin marak digunakan di sepanjang tahun 2018 hingga saat ini.
Hal tersebut dikarenakan gaya motor retro dan vintage seolah bikin nyaman dan percaya diri. Tak heran para pecinta otomotif kian melirik motor yang booming di era 1980-1990-an itu sebagai tunggangan sehari-hari.
Muhammad Andriyani, 21, penggemar motor bebek asal Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto mengungkapkan, bahwa di ranah kendaraan, ia memang memilih menggunakan motor bebek.
Gaya klasiknya memberikan euforia era 1980-an. Tak hanya itu, lanjut dia, motor bebek ini dinilai relatif murah dari segi harga bekasnya dan sparepart, serta irit dalam penggunaan BBM.
”Tergolong motor yang irit BBM. Cocok jika digunakan untuk berkendara jauh,” ujarnya, Jumat (2/2).
Meski motor bebek kerap disebut lawas, akan tetapi tren rekondisi motor ini membuatnya layak disandingkan dengan jenis terbaru.
Andriyani mengaku ia rela menghabiskan Rp 2 juta untuk memodifikasi motor bebek kesayangannya. ”Sengaja menabung uang untuk memodifikasi motor dengan merubah velg, mesin, cat dan menambahkan beberapa stiker,” ungkapnya.
Mesin pada motor bebek, terkenal dengan ringan dan mudah dimodifikasi. Rekondisi mesin sangat direkomendasikan bagi pengendara yang ingin meningkatkan performa motor.
Pemberian cat dilakukan untuk menunjukkan keistimewaan juga sebagai pelindung cuaca.
Sedangkan modifikasi velg dan pemberian stiker ditujukan untuk meningkatkan nilai estetika motor. ”Kembali pada selera masing-masing bagian mana yang ingin dirubah” tambahnya.
Andriyani menjelaskan, penggemar motor bebek berasal dari berbagai kalangan dan terus bertambah, mulai dari remaja hingga dewasa.
Hal tersebut dapat dilihat dari menjamurnya anggota komunitas pecinta motor bebek. Mereka kerap mengadakan event yang biasa dihadiri ribuan peserta.
Seperti event anniversary di Gresik (18/6) yang dihadiri lebih dari 2 ribu peserta dari berbagai daerah.
”Tidak hanya sekedar konvoi, namun juga sharing seputar kendala dan modifikasi. Sehingga hubungan antar para pecinta motor bebek terjalin dengan baik” tambah Diajeng Maharani, pelajar pecinta motor lawas ini. (wilda mifta)
Editor : Moch. Chariris